Aku
membaringkan tubuhku di beranda dan melamun. Hidup tidak pernah sederhana.
Mataku mengamati langit-langit dengan kayu jati lalu mengalihkannya ke
kayu-kayu di pohon yang berderet di sekitar rumah ini. Tuhan menciptakan pohon
untuk kemudian manusia menjadikannya bahan bangunan, tentu melewati berbagai
proses. Aku memindahkan pandanganku ke awan-awan yang mungkin di setiap
bentuknya memiliki arti bahkan para ilmuan telah menamainya berbeda-beda sesuai
dengan cirri-ciri tertentu. Awan hari ini putih bersih dan tenang. Aku pikir
ini akan menjadi hari yang indah karena semuanya normal. Orang-orang entah di
bagian mana sedang pergi berselancar, seorang gadis muda mungkin sedang
melakukan perawatan untuk memutihkan tubuhnya, sedang yang lain berjemur untuk
mendapat kulit yang mereka bilang eksotis. Aku sendiri memeilih berbaring
berbaring seperti ini. Liburanku seperti biasa, melakukan pekerjaan rumah di
pagi hari dan ketika sudah selesai aku tidak melakukan apapun. Mungkin aku akan
mati bosan jika setelah ini aku tidak diterima di perusahaan yang aku lamar
beberapa hari lalu kemudian tetanggaku akan member nasihat
“Terima
sajalah pinangannya . Setidaknya meskipun kamu tidak bekerja pekerjaannya cukup
untuk menghidupi kalian berdua.”
Sementara
itu aku senang menuliskan kegelisahanku ke dalam sebuah catatan dan sesekali
aku pergi ke warnet dan mengirimkannya ke blog yang aku buat karena iseng.
Setelah
memandangi awan yang putih bersih nan suci di atas tadi aku mengambil sebuah
buku di atas meja dan membacanya. Hampir setiap hari saat aku di beranda
seperti ini seorang laki-laki mengenakan celana sedengkul dan kaus kusam serta
topi berwarna kuning menyala lewat depan rumahku. Jam berapapun aku sedang
duduk, dia pasti lewat. Namanya Yakub tapi nasibnya beda sekali dengan nasib
Nabi Yakub. Dia bekerja di tempat pahat batu di sekitar rumahku, sebagai buruh.
Suatu
hari Yakub datang ke rumah ini. Ia memakai kemeja putih yang mulai berwarna
coklat dan celana kain yang potongan bawahnya menggantung. Entah karena dia
terlalu tinggi tapi aku pernh melihat celana yang sama saat dia SMP. Mungkin
itu satu-satunya celana yang dia punya sejak SMP. Ia bicara kepada ibuku dan
hingga dapat aku dengar dari dalam.
“Mak,
ijinkan aku meminang Lia. Meskipun aku hanya buruh aku janji akan
membahagiakannya.”
Kemudian
aku tidak mendengar satu katapun selama beberapa menit.
“Mak
akan bilang sama Lia.”
Hingga
akhirnya itu yang dikatakan ibuku. Ibuku adalah satu-satunya orang yang aku punya
karena Bapak meninggalkan kami entah kemana. Mengenai Yakub, bukan karena
dia hanya seorang buruh pahat batu lalu
aku menolaknya. Mayoritas orang disini bekerja sebagai buruh pahat batu. Aku
hanya benar-benar tidak dapat mencintainya meskipun aku tidak tahu apa itu hal
bernama cinta. Terlebih ibuku pernah bercerita tentang bapak.
***
Dulu
kami menikah di umur yang masih sangat muda. Waktu itu ketika seorang gadis
lulus SD, saat itu juga artinya dia harus segera menikah. Aku tidak memiliki
pandangan apapun mengenai pernikahan dan tiba-tiba seseorang meminangku. Aku
menyerahkan segala keputusan kepada Ibu dan pada akhirnya kamu menikah hingga
beberapa bulan setelah pernikahan aku melihat seseorang berteduh di beranda
rumah ini. Saat itu ayahmu sedang bekerja. Orang asing itu juga seorang buruh
pahat batu yang baru pulang kerja. Aku membuatkannya teh panas dan terjebak dalam percakapan ngalor ngidul
dengannya. Di hari berikutnya aku melihat dia lewat depan rumah ketika aku
sedang duduk di beranda. Dia menoleh dan memberikan senyum termanisnya. Begitu
di hari-hari berikutnya, dengan sengaja ataupun tidak aku berada di luar rumah
saat ia lewat. Kadang-kadang kami mengobrol sebentar saat ayahmu tidak ada. Aku
merasakan sesuatu saat bersamanya, mungkin itu yang orang-orang sebut dengan
rasa nyaman. Hingga suatu hari aku melihat seorang tetangga memperhatikan kami.
Beberapa bulan kemudian Ibu mengandung. Ibu mengandungmu. Di suatu malam itu
juga, ayahmu tiba-tiba marah sejadi-jadinya.
“Benar
yang ada di kandunganmu itu anakku? Bukan anak Si Sabar?”
“Apa
yang kamu katakan?”
“Sudahlah
aku tahu apa yang kamu lakukan dengannya saat aku sedang sibuk mencari nafkah
untukmu,”
Lalu
dia pergi. Di posisi ini aku memang salah tapi seperti orang bilang cinta tidak
pernah salah, Hanya aku saja yang tidak mampu mengendalikan egoku. Saat itu aku
harus mengurusi semua sendirian. Menghadapi cibiran tetangga, sendiri karena
akhirnya Sabar pun pindah ke luar pulau. Mungkin sekarang dia juga sudah punya
anak dan bahagia dengan orang lain. Meskipun begitu aku tidak pernah
membencinya. Bagaimanapun aku berusaha, aku tetap tidak bisa hingga aku semakin
menyadari bahwa itu perasaan yang orang sebut dengan cinta.
Ibuku
tersenyum hampa dengan air mata yang hampir jatuh tapi dia tahan setelah
bercerita.
***
Karena
itu Ibu tidak memaksaku untuk menerima pinangan Yakub.
Memasuki
bulan Ramadhan aku menyiapkan makanan yang akan diberikan untuk takjil di
masjid dimana setiap rumah di kampong ini akan mendapat giliran untuk dimintai
takjil. Aku menunggu orang yang akan mengambil takjil tersebut di beranda
rumah. Dua orang menaiki motor berhenti beberapa meter di depanku.
“Mbak,
mau ambil takjil.” Kata seseorang setelah turun dari jok belakang.
Orang
itu aku mengenalnya. Sedang yang satu, yang menunggu di motor, sepertinya aku
pernah bertemu bahkan aku bisa memastikan jika aku pernah bertemu dengannya
sebelum ini tapi aku benar-benar lupa siapa dia. Aku masuk ke dalam rumah
setelah dua orang itu pergi dan orang yang aku lupa namanya itu melayangkan
senyumnya. Aku menghampiri Ibu yang masih sibuk dengan mesin jahitnya sambil
menunggu buka.
“Ibu,
yang tadi mengambil takjil siapa?”
“Lho,
bukan Mas Jono?” Ibu membenarkan letak kacamatanya.
“Yang
satunya….”
“Oh
itu anaknya Bu Emi itu bukan?”
“Bu
Emi?”
“Iya,
dulu buruh cuci tapi sekarang kayaknya udah nggak kerja. Spertinya namanya
Doni. Lulusan STM. Dia anak yang pintar jadi ketika lulus langsung mendapat
kerja dan dipromosikan menjadi apa ya namanya, yang jelas dia kerja kantoran.”
Aku
hanya mengangguk-angguk.
Menjelang
lebaran seperti ini Ibu mendapat order yang lumayan sehingga aku juga memiliki
pekerjaan baru tapi sayang hasil jahitanku tidak serapi jahitan Ibu. Seandainya
aku orang yang pintar tentu sekarang Ibu sudah tidak bekerja. Aku akan pergi ke
kantor dan membeli sebuah motor tapi kenyataanya tidak seperti itu.
***
Di
suatu sore, sehabis Ashar , orang yang diingat
ibuku dengan nama Doni itu datang ke rumah.
“Mbak
Lia ya? Saya Dino.”
Dia
menyalamiku. Aku kaget dan menebak-nebak mau apa dia datang kemari.
“Mbak,
aku baca-baca blog Mbak Lia lho hehe.”
Sementara
dia bicara sambil tersenyum aku hanyut dan mengingat-ingat mirip siapa senyum
yang ia miliki sehingga ada momen hening beberapa waktu. Dia terlihat salah
tingkah.
“Oh
ya?” Aku berkata dengan muka kaget karena tersadar dari lamunanku.
“Gini
mbak, kan mbak Lia suka nulis. Nah, mumpung ini ada lowongan di perusahaan saya
jadi content writer gitu coba Mbak Lia daftar aja…”
Aku
semakin kaget dan menoleh kea rah Ibu yang hanya memperhatikanku balik tanpa
berkata apa-apa.
“Tapi,
tulisan saya kayak gitu.”
“Nggak
apa-apa, Mbak yang penting kan Mbak Lia udah suka nulis dulu, nanti bisa
dilatih sambil Mbak Lia banyak-banyak baca aja nanti.”
Akhirnya
aku meniyakan tawarannya. Dia berpamitan dan aku melihat punggungnya menjauhi
beranda rumah kami. Dia melempar senyum sedikit sebelum mengegas motornya. Sore
itu merasa bahagia bukan karena tawaran pekerjaan itu tapi karena … entahlah.
Besok
paginya aku datang ke tempat wawancara dan bertemu dengan Dino. Dia tidak
terlalu banyak menanyaiku dan tidak lama setelah hari itu seorang dengan warna
serba orens berhenti di depan rumah, Pak Pos. Dia mengantarkan dua surat
pemberitahuan. Salah satunya dari Dino dan yang lain dari perusahaan yang aku
lamar sebelum aku melamar di perusahaan Dino. Aku membuka surat-surat itu dan
dua-duanya menyatakan bahwa aku diterima. Aku tidak memerlukan waktu yang cukup
lama untuk mengambil keputusan dan memilih satu dari dua pekerjaan yang aku
dapatkan.
Pagi-pagi
sekali aku berpamitan dengan Ibu dan berangkat dengan jalan kaki beberapa meter
ke halte bus lalu menunggu beberapa menit sampai bus yang sudah waktunya pension
itu datang. Aku berdesak-desakkan dengan pedagang yang akan pergi ke pasar
pagi. Sampai di kantor baruku sebagai seorang content writer aku kaget dan
merasa seketika itu juga ingin segera mengundurkan diri. Aku melihat Dino
merangkul seorang perempuan cantik menuju ke kafetaria sambil tertawa-tawa. Hal
yang tidak pernah terpikir olehku akan dilakukannya dengan perempuan lain.
Kenapa aku tidak pernah berpikir bahwa Dino adalah anak emas yang cukup tampan
dan pasti telah memilih pasangan yang jauh lebih cantik dan pintar daripada
aku? Pagi itu aku hancur. Aku merasa bodoh.Cinta membuatku melakukan hal bodoh.
Memilih pekerjaan yang gajinya lebih kecil tapi itu membuatku sadar mungkin ini
yang Ibu bilang dengan cinta. Mungkin ini yang Ibu rasakan, ditinggalkan
seseorang yang lebih memilih orang lain dalam hidupnya. Bukan cinta yang
membuat hatiku sakit sepagi ini, hanya aku yang terlalu berambisi dengan Dino.
Mungkin seperti ini juga yang dirasakan Yakub.
END
Komentar
Posting Komentar