Langsung ke konten utama

BERANDA


            Aku membaringkan tubuhku di beranda dan melamun. Hidup tidak pernah sederhana. Mataku mengamati langit-langit dengan kayu jati lalu mengalihkannya ke kayu-kayu di pohon yang berderet di sekitar rumah ini. Tuhan menciptakan pohon untuk kemudian manusia menjadikannya bahan bangunan, tentu melewati berbagai proses. Aku memindahkan pandanganku ke awan-awan yang mungkin di setiap bentuknya memiliki arti bahkan para ilmuan telah menamainya berbeda-beda sesuai dengan cirri-ciri tertentu. Awan hari ini putih bersih dan tenang. Aku pikir ini akan menjadi hari yang indah karena semuanya normal. Orang-orang entah di bagian mana sedang pergi berselancar, seorang gadis muda mungkin sedang melakukan perawatan untuk memutihkan tubuhnya, sedang yang lain berjemur untuk mendapat kulit yang mereka bilang eksotis. Aku sendiri memeilih berbaring berbaring seperti ini. Liburanku seperti biasa, melakukan pekerjaan rumah di pagi hari dan ketika sudah selesai aku tidak melakukan apapun. Mungkin aku akan mati bosan jika setelah ini aku tidak diterima di perusahaan yang aku lamar beberapa hari lalu kemudian tetanggaku akan member nasihat
            “Terima sajalah pinangannya . Setidaknya meskipun kamu tidak bekerja pekerjaannya cukup untuk menghidupi kalian berdua.”
            Sementara itu aku senang menuliskan kegelisahanku ke dalam sebuah catatan dan sesekali aku pergi ke warnet dan mengirimkannya ke blog yang aku buat karena iseng.
            Setelah memandangi awan yang putih bersih nan suci di atas tadi aku mengambil sebuah buku di atas meja dan membacanya. Hampir setiap hari saat aku di beranda seperti ini seorang laki-laki mengenakan celana sedengkul dan kaus kusam serta topi berwarna kuning menyala lewat depan rumahku. Jam berapapun aku sedang duduk, dia pasti lewat. Namanya Yakub tapi nasibnya beda sekali dengan nasib Nabi Yakub. Dia bekerja di tempat pahat batu di sekitar rumahku, sebagai buruh.
            Suatu hari Yakub datang ke rumah ini. Ia memakai kemeja putih yang mulai berwarna coklat dan celana kain yang potongan bawahnya menggantung. Entah karena dia terlalu tinggi tapi aku pernh melihat celana yang sama saat dia SMP. Mungkin itu satu-satunya celana yang dia punya sejak SMP. Ia bicara kepada ibuku dan hingga dapat aku dengar dari dalam.
            “Mak, ijinkan aku meminang Lia. Meskipun aku hanya buruh aku janji akan membahagiakannya.”
            Kemudian aku tidak mendengar satu katapun selama beberapa menit.
            “Mak akan bilang sama Lia.”
            Hingga akhirnya itu yang dikatakan ibuku. Ibuku adalah satu-satunya orang yang aku punya karena Bapak meninggalkan kami entah kemana. Mengenai Yakub, bukan karena dia  hanya seorang buruh pahat batu lalu aku menolaknya. Mayoritas orang disini bekerja sebagai buruh pahat batu. Aku hanya benar-benar tidak dapat mencintainya meskipun aku tidak tahu apa itu hal bernama cinta. Terlebih ibuku pernah bercerita tentang bapak.
***
            Dulu kami menikah di umur yang masih sangat muda. Waktu itu ketika seorang gadis lulus SD, saat itu juga artinya dia harus segera menikah. Aku tidak memiliki pandangan apapun mengenai pernikahan dan tiba-tiba seseorang meminangku. Aku menyerahkan segala keputusan kepada Ibu dan pada akhirnya kamu menikah hingga beberapa bulan setelah pernikahan aku melihat seseorang berteduh di beranda rumah ini. Saat itu ayahmu sedang bekerja. Orang asing itu juga seorang buruh pahat batu yang baru pulang kerja. Aku membuatkannya teh panas  dan terjebak dalam percakapan ngalor ngidul dengannya. Di hari berikutnya aku melihat dia lewat depan rumah ketika aku sedang duduk di beranda. Dia menoleh dan memberikan senyum termanisnya. Begitu di hari-hari berikutnya, dengan sengaja ataupun tidak aku berada di luar rumah saat ia lewat. Kadang-kadang kami mengobrol sebentar saat ayahmu tidak ada. Aku merasakan sesuatu saat bersamanya, mungkin itu yang orang-orang sebut dengan rasa nyaman. Hingga suatu hari aku melihat seorang tetangga memperhatikan kami. Beberapa bulan kemudian Ibu mengandung. Ibu mengandungmu. Di suatu malam itu juga, ayahmu tiba-tiba marah sejadi-jadinya.
            “Benar yang ada di kandunganmu itu anakku? Bukan anak Si Sabar?”
            “Apa yang kamu katakan?”
            “Sudahlah aku tahu apa yang kamu lakukan dengannya saat aku sedang sibuk mencari nafkah untukmu,”
            Lalu dia pergi. Di posisi ini aku memang salah tapi seperti orang bilang cinta tidak pernah salah, Hanya aku saja yang tidak mampu mengendalikan egoku. Saat itu aku harus mengurusi semua sendirian. Menghadapi cibiran tetangga, sendiri karena akhirnya Sabar pun pindah ke luar pulau. Mungkin sekarang dia juga sudah punya anak dan bahagia dengan orang lain. Meskipun begitu aku tidak pernah membencinya. Bagaimanapun aku berusaha, aku tetap tidak bisa hingga aku semakin menyadari bahwa itu perasaan yang orang sebut dengan cinta.
            Ibuku tersenyum hampa dengan air mata yang hampir jatuh tapi dia tahan setelah bercerita.
***
            Karena itu Ibu tidak memaksaku untuk menerima pinangan Yakub.
            Memasuki bulan Ramadhan aku menyiapkan makanan yang akan diberikan untuk takjil di masjid dimana setiap rumah di kampong ini akan mendapat giliran untuk dimintai takjil. Aku menunggu orang yang akan mengambil takjil tersebut di beranda rumah. Dua orang menaiki motor berhenti beberapa meter di depanku.
            “Mbak, mau ambil takjil.” Kata seseorang setelah turun dari jok belakang.
            Orang itu aku mengenalnya. Sedang yang satu, yang menunggu di motor, sepertinya aku pernah bertemu bahkan aku bisa memastikan jika aku pernah bertemu dengannya sebelum ini tapi aku benar-benar lupa siapa dia. Aku masuk ke dalam rumah setelah dua orang itu pergi dan orang yang aku lupa namanya itu melayangkan senyumnya. Aku menghampiri Ibu yang masih sibuk dengan mesin jahitnya sambil menunggu buka.
            “Ibu, yang tadi mengambil takjil siapa?”
            “Lho, bukan Mas Jono?” Ibu membenarkan letak kacamatanya.
            “Yang satunya….”
            “Oh itu anaknya Bu Emi itu bukan?”
            “Bu Emi?”
            “Iya, dulu buruh cuci tapi sekarang kayaknya udah nggak kerja. Spertinya namanya Doni. Lulusan STM. Dia anak yang pintar jadi ketika lulus langsung mendapat kerja dan dipromosikan menjadi apa ya namanya, yang jelas dia kerja kantoran.”
            Aku hanya mengangguk-angguk.
            Menjelang lebaran seperti ini Ibu mendapat order yang lumayan sehingga aku juga memiliki pekerjaan baru tapi sayang hasil jahitanku tidak serapi jahitan Ibu. Seandainya aku orang yang pintar tentu sekarang Ibu sudah tidak bekerja. Aku akan pergi ke kantor dan membeli sebuah motor tapi kenyataanya tidak seperti itu.
***
            Di suatu sore, sehabis Ashar , orang yang diingat  ibuku dengan nama Doni itu datang ke rumah.
            “Mbak Lia ya? Saya Dino.”
            Dia menyalamiku. Aku kaget dan menebak-nebak mau apa dia datang kemari.
            “Mbak, aku baca-baca blog Mbak Lia lho hehe.”
            Sementara dia bicara sambil tersenyum aku hanyut dan mengingat-ingat mirip siapa senyum yang ia miliki sehingga ada momen hening beberapa waktu. Dia terlihat salah tingkah.
            “Oh ya?” Aku berkata dengan muka kaget karena tersadar dari lamunanku.
            “Gini mbak, kan mbak Lia suka nulis. Nah, mumpung ini ada lowongan di perusahaan saya jadi content writer gitu coba Mbak Lia daftar aja…”
            Aku semakin kaget dan menoleh kea rah Ibu yang hanya memperhatikanku balik tanpa berkata apa-apa.
            “Tapi, tulisan saya kayak gitu.”
            “Nggak apa-apa, Mbak yang penting kan Mbak Lia udah suka nulis dulu, nanti bisa dilatih sambil Mbak Lia banyak-banyak baca aja nanti.”
            Akhirnya aku meniyakan tawarannya. Dia berpamitan dan aku melihat punggungnya menjauhi beranda rumah kami. Dia melempar senyum sedikit sebelum mengegas motornya. Sore itu merasa bahagia bukan karena tawaran pekerjaan itu tapi karena … entahlah.
            Besok paginya aku datang ke tempat wawancara dan bertemu dengan Dino. Dia tidak terlalu banyak menanyaiku dan tidak lama setelah hari itu seorang dengan warna serba orens berhenti di depan rumah, Pak Pos. Dia mengantarkan dua surat pemberitahuan. Salah satunya dari Dino dan yang lain dari perusahaan yang aku lamar sebelum aku melamar di perusahaan Dino. Aku membuka surat-surat itu dan dua-duanya menyatakan bahwa aku diterima. Aku tidak memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengambil keputusan dan memilih satu dari dua pekerjaan yang aku dapatkan.
            Pagi-pagi sekali aku berpamitan dengan Ibu dan berangkat dengan jalan kaki beberapa meter ke halte bus lalu menunggu beberapa menit sampai bus yang sudah waktunya pension itu datang. Aku berdesak-desakkan dengan pedagang yang akan pergi ke pasar pagi. Sampai di kantor baruku sebagai seorang content writer aku kaget dan merasa seketika itu juga ingin segera mengundurkan diri. Aku melihat Dino merangkul seorang perempuan cantik menuju ke kafetaria sambil tertawa-tawa. Hal yang tidak pernah terpikir olehku akan dilakukannya dengan perempuan lain. Kenapa aku tidak pernah berpikir bahwa Dino adalah anak emas yang cukup tampan dan pasti telah memilih pasangan yang jauh lebih cantik dan pintar daripada aku? Pagi itu aku hancur. Aku merasa bodoh.Cinta membuatku melakukan hal bodoh. Memilih pekerjaan yang gajinya lebih kecil tapi itu membuatku sadar mungkin ini yang Ibu bilang dengan cinta. Mungkin ini yang Ibu rasakan, ditinggalkan seseorang yang lebih memilih orang lain dalam hidupnya. Bukan cinta yang membuat hatiku sakit sepagi ini, hanya aku yang terlalu berambisi dengan Dino. Mungkin seperti ini juga yang dirasakan Yakub.

END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.