Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

A Really Short Story about (you and) Only Me

Aku menyesap kedinginan malam ini dalam cangkir kopi berwarna biru pastel sambil sesekali melirik jam dan berharap tumpukan kertas-kertas tugas di depanku ini segera berkurang. Mataku lelah, selelah hati pasangan yang dipisahkan jarak yang menunggu kabar tapi tak terpenuhi, yang hidupnya bersesak sesakan dengan kerinduan Satu jam...dua jam...23:56 Ah, lelah juga, akhirnya aku memutuskan meninggalkan beberapa tugas yang belum selesai padahal deadline tugas tersebut adalah besok. Entah apa yang akan terjadi besok, entah pula yang terjadi pada pasangan jarak jauh yang putus asa. Aku bergegas tidur. Sebelumnya Handphoneku menampilkan sesuatu, reminder yang berisi ulang tahun Dimas. Pikiranku terbang, menerawang ke beberapa waktu lalu saat kami masih bersama. *** Suatu sore dalam bait-bait detik yang kami lalui di jalanan kota, kami bercerita, kami tertawa. Bercerita tentang apapun dengannya adalah masa yang tak mudah aku lepaskan dari memori. Saat kami ...

Analogi Kopi dan Awan

      Awan berangsur-angsur menggelap, langit menuruti keinginan penyair menjadi senja. Seorang gadis mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan celana jeans panjang memasuki sebuah kedai kopi di pinggir jalanan yang sedang macet. Tidak ada yang istimewa dari kedai tersebut kecuali furniture klasik dan cangkir-cangkir kuno yang berada di sudut kedai. Tidak beberapa lama capucino yang dipesannya datang, rasanya nikmat, berbeda dengan capucino yang lain. Itu yang membuat di hari-hari berikutnya dia sering datang kesana. Hingga suatu malam... "Nona Vio, sebentar lagi kedai ini akan tutup" Seseorang telah berdiri di dekat mejanya. Vio kaget sekaligus kikuk. "Eh iya, maaf... Kamu tahu namaku?" "Siapa yang tidak tahu dengan penulis, coffee blogger dan pemain film seperti nona" tidak sedikitpun senyum di wajah barista itu muncul "Kamu berlebihan, oh iya kamu barista disini ya? Kalau ada waktu kita bisa mengobrol. Aku ingin bertanya banyak mengenai...

Senja di Kotaku

Perak-perak yang jatuh pada senja bersisihan Berantakan, tercecer kemudian menyatu kembali Mengalir pada parit-parit dengan gemulai Bersama tenggelamnya matahari di ujung samudra Aku masih menyandar pada awan pink ufos Menunggu gerimis-gerimis menipis Menunggu bangunan tinggi tenggelam di hiruk pikuk lampu merah Melamar rasi-rasi berbentuk imajinasi Kadang jalanan seperti memuai Jarak yang kedinginan Cahaya yang gelap berpendar Menjadi beberapa bagian yang mengantarkanku pada dongeng-dongeng malam Perak-perak yang volumenya membelah diri Semakin larut dalam alunan gelap Sedangkan aku masih disini Mengamati jalan dan jarak yang memuai

Surat untuk Siapa Saja

Belakang ini aku senang menulis surat, meski tanpa alamat tapi aku menujukannya padamu. Hujan belakangan datang tidak teratur, meningkatkan mood ku dengan sangat baik untuk menulis surat-surat ini. Aku tahu di dunia yang sebenarnya kau jarang sekali mendengar ceritaku, bahkan mungkin tidak pernah. Baik, aku sekarang akan mulai bercerita tentang mimpi-mimpiku. Mimpi yang paling dekat adalah lulus SMK dengan nilai yang memuaskan, lalu masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat beasiswa. Kemudian aku ingin benar-benar mewujudkan keinginanku menjadi penulis, membuat buku. Semakin lama tulisanku semakin membaik dan dikenal. Dari situ aku dapat menyimpan sebagian penghasilan untuk mimpi yang lain, membuat coffee shop dan rumah baca tidak lupa mengadakan kelas menulis. Setelah aku tua, aku dapat menikmati alam, melakukan perjalanan yang aku harap dapat kunikmati bersamamu dan kita akan membuat buku tentang perjalanan tersebut, menjadi travel writer. Indah sekali, bukan? Aku akan sangat bahagi...

My Underpressure Daydream

Saya memiliki masalah berat yang tidak bisa saya bagi dan tidak bisa saya simpan sendiri. Maka saya menuliskan ini sebelum akhirnya saya gila nanti, sebelum orang-orang menatap wajah saya dengan ketakutan, sebelum rambut saya kusut karena jarang dicuci, sebelum pikiran saya terkontaminasi dengan hal-hal tidak masuk akal (mungkin sekarang ini sudah sebagian terkontaminasi). Saya yang selalu terlihat ceria, yang selalu tampak tidak memiliki beban ini sebenarnya menyimpan sesuatu. Sedangkan saya lihat orang lain yang dianggap sudah dewasa masih senang mengumbar kesedihannya di depan orang lain, menangis, berteriak, berdiam diri dan menyalahkan orang lain. Apa yang sebenarnya mereka hadapi? Tidakkah masalah saya ini lebih berat dari yang mereka hadapi? Atau saya kah yang terlalu tegar dan tidak peka terhadap rasa sedih? Kadang-kadang sesekali saya mencari, kemana saya bisa pergi? Dapatkah saya diterima disana nanti? Apakah masalah yang saya hadapi dapat berkurang? Pengecut kah saya? Saya ...