Aku menyesap kedinginan malam ini dalam cangkir kopi berwarna biru pastel sambil sesekali melirik jam dan berharap tumpukan kertas-kertas tugas di depanku ini segera berkurang. Mataku lelah, selelah hati pasangan yang dipisahkan jarak yang menunggu kabar tapi tak terpenuhi, yang hidupnya bersesak sesakan dengan kerinduan
Satu jam...dua jam...23:56
Ah, lelah juga, akhirnya aku memutuskan meninggalkan beberapa tugas yang belum selesai padahal deadline tugas tersebut adalah besok. Entah apa yang akan terjadi besok, entah pula yang terjadi pada pasangan jarak jauh yang putus asa. Aku bergegas tidur. Sebelumnya Handphoneku menampilkan sesuatu, reminder yang berisi ulang tahun Dimas. Pikiranku terbang, menerawang ke beberapa waktu lalu saat kami masih bersama.
***
Suatu sore dalam bait-bait detik yang kami lalui di jalanan kota, kami bercerita, kami tertawa. Bercerita tentang apapun dengannya adalah masa yang tak mudah aku lepaskan dari memori. Saat kami harus mampir di kafe, menunggu gerimis menipis, menepi dari keributan dan hiruk pikuk jalanan. Kami masih bercerita di bawah cahaya yang berpendar yang membentuk rasi-rasi berbentuk hati yang utuh atau kadang-kadang berbentuk senyuman, persis seperti kebahagiaan yang aku rasakan saat bersamanya.
Aku dapat mencurahkan segala keluh kesahku bersamanya, aku selalu membanggakannya
"Kamu nggak suka shopping? Membeli barang-barang baru atau alat kosmetik? Dan menyuruhku membawakan tas tas belanjaan seperti teman-temanmu?" Dia tertawa, kami selalu menghabiskan waktu dengan penuh tawa. Malam Minggu yang sebenarnya dia memiliki tugas untuk segera dikerjakan tapi masih menyempatkan bertemu meski sambil sibuk dengan deadline masing-masing.
Entah apa yang aku lakukan hingga membuat sikapnya berubah, sangat sulit menerima kenyataan bahwa akhirnya kami terpisah.
Sekarang aku harus terbiasa mandiri, melakukan segala sesuatu sendiri, menyimpan air mata dan kerinduan sendiri, menyimpan rasa sayang yang sudah lama tertanam dan terbiasa begitu yang tiba-tiba harus dihilangkan, sangat sulit memang. Handphone yang terbiasa berisi perhatian-perhatian kecil darinya, foto-foto kami, dan semua cerita yang telah menjadi kenangan.
Saat ini paling tidak aku ingin mengucapkan "Selamat ulang tahun, Dim." kepadanya sambil menahan air mata melihat foto perayaan ulang tahun bersama pacar barunya yang diupload. Aku akan menelponnya dan membuang harapan untuk kembali bersamanya bersama kata-kata yang aku ucapkan.
Satu jam...dua jam...23:56
Ah, lelah juga, akhirnya aku memutuskan meninggalkan beberapa tugas yang belum selesai padahal deadline tugas tersebut adalah besok. Entah apa yang akan terjadi besok, entah pula yang terjadi pada pasangan jarak jauh yang putus asa. Aku bergegas tidur. Sebelumnya Handphoneku menampilkan sesuatu, reminder yang berisi ulang tahun Dimas. Pikiranku terbang, menerawang ke beberapa waktu lalu saat kami masih bersama.
***
Suatu sore dalam bait-bait detik yang kami lalui di jalanan kota, kami bercerita, kami tertawa. Bercerita tentang apapun dengannya adalah masa yang tak mudah aku lepaskan dari memori. Saat kami harus mampir di kafe, menunggu gerimis menipis, menepi dari keributan dan hiruk pikuk jalanan. Kami masih bercerita di bawah cahaya yang berpendar yang membentuk rasi-rasi berbentuk hati yang utuh atau kadang-kadang berbentuk senyuman, persis seperti kebahagiaan yang aku rasakan saat bersamanya.
Aku dapat mencurahkan segala keluh kesahku bersamanya, aku selalu membanggakannya
"Kamu nggak suka shopping? Membeli barang-barang baru atau alat kosmetik? Dan menyuruhku membawakan tas tas belanjaan seperti teman-temanmu?" Dia tertawa, kami selalu menghabiskan waktu dengan penuh tawa. Malam Minggu yang sebenarnya dia memiliki tugas untuk segera dikerjakan tapi masih menyempatkan bertemu meski sambil sibuk dengan deadline masing-masing.
Entah apa yang aku lakukan hingga membuat sikapnya berubah, sangat sulit menerima kenyataan bahwa akhirnya kami terpisah.
Sekarang aku harus terbiasa mandiri, melakukan segala sesuatu sendiri, menyimpan air mata dan kerinduan sendiri, menyimpan rasa sayang yang sudah lama tertanam dan terbiasa begitu yang tiba-tiba harus dihilangkan, sangat sulit memang. Handphone yang terbiasa berisi perhatian-perhatian kecil darinya, foto-foto kami, dan semua cerita yang telah menjadi kenangan.
Saat ini paling tidak aku ingin mengucapkan "Selamat ulang tahun, Dim." kepadanya sambil menahan air mata melihat foto perayaan ulang tahun bersama pacar barunya yang diupload. Aku akan menelponnya dan membuang harapan untuk kembali bersamanya bersama kata-kata yang aku ucapkan.
Komentar
Posting Komentar