Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Surat untuk Hanna (2)

Kembali Josh menitipkan suratnya melalui aku yang sedang kedinginan di rumahku di kaki gunung tapi baru sempat aku sampaikan ketika aku di Jogja. Oh, Josh ku harap kamu tidak marah. Bukankah jatuh cinta telah mengajarkanmu kesabaran? Aku belum membuka isi surat itu dan langsung aku paste di sini. Aku harap isi suratnya bukanlah bualan lagi. Selamat pagi, Hanna yang mungkin saja belum bangun. Angin menggerak-gerakkan daun-daun kecil pohon cengkih yang tumbuh sendirian di pekarangan rumahku. Aku pikir daun-daun itu tegar, Hanna. Walaupun diterpa angin yang cukup besar mereka tetap setia melekat pada ranting dan ranting bersetia pada batang pohon untuk tidak jatuh. Mereka bisa saja menjadi rapuh dan lepas tapi lihatlah, mereka tetap berusaha saling bergenggaman. Ku harap kamu juga demikian, Hanna. Meskipun berada jauh dari sini dan diterpa penganggu, ku harap kamu tetap bersetia kepadaku. -Josh-