Langsung ke konten utama

Surat untuk Hanna (2)

Kembali Josh menitipkan suratnya melalui aku yang sedang kedinginan di rumahku di kaki gunung tapi baru sempat aku sampaikan ketika aku di Jogja. Oh, Josh ku harap kamu tidak marah. Bukankah jatuh cinta telah mengajarkanmu kesabaran? Aku belum membuka isi surat itu dan langsung aku paste di sini. Aku harap isi suratnya bukanlah bualan lagi.

Selamat pagi, Hanna yang mungkin saja belum bangun.

Angin menggerak-gerakkan daun-daun kecil pohon cengkih yang tumbuh sendirian di pekarangan rumahku. Aku pikir daun-daun itu tegar, Hanna. Walaupun diterpa angin yang cukup besar mereka tetap setia melekat pada ranting dan ranting bersetia pada batang pohon untuk tidak jatuh. Mereka bisa saja menjadi rapuh dan lepas tapi lihatlah, mereka tetap berusaha saling bergenggaman. Ku harap kamu juga demikian, Hanna. Meskipun berada jauh dari sini dan diterpa penganggu, ku harap kamu tetap bersetia kepadaku.


-Josh-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.