Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

#CeritadariKereta 20 Desember 2013

20 Desember 2013 PULANG KAMPUNG MEEEN!!! The most exciting day during in Jogja setelah sebulan  lebih ngaak pulang. Pagi-pagi banget saya bangun dengan tingkat ke-excited-an maximal dan tingkat kesadaran masih 76% bukan maksud saya 75,97% setelah kesadaran saya hampir penuh yaitu sekitar 99.98% saya menatap keluar jendela dengan tatapan nanar, hujan deres banget men, HUJAN DERESSS BANGETTT. Oke daripada saya setres saya memilih kembali tidur sampai sekitar jam 07.00 saya bangun lagi dan dengan malas pergi mandi naik ojek karena kamar mandi saya letaknya kayak pindah ke depan rektorat. Setelah itu saya pergi ke stasiun tapi mampir dulu makan setelah itu saya mampir lagi nyari jajan buat bekal di jalan. Sampai shelter Trans Jogja saya nunggu lumayan lama dan naik kemudian turun lagi untuk pindah bus 3A. Nggak ada yang menarik-menarik banget di bus itu agak penuh dan banyak anak SMP. Satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah ketika ada seorang bapak-bapak duduk di poj...

#CeritadariKereta 15 November 2013

15 November 2013 Today is awesome! Hari ini saya berencana pulang nebeng temen saya tetapi unexpected thing came jadi setelah saya nunggu sampe abis Jumatan saya nggak jadi bareng and finally saya mencoba mengejar kereta yang jam tiga, saya turun dari trans Jogja saat hujan deras sekitar pukul setengah tigaan. Sampai di stasiun saya berharap masih dapat kereta jam 3 atau at least jam 4 tapi ternyata kereta yang terdekat jam 6 kurang “Mas, ke Solo jam berapa” *balapan sama suara   hujan* “czxfptsnnshht3#JKL*7&” “APA MAS??” “kafxgtrsddk#$kmcvxfr@#%” *sialan nggak dengerrrrrrrrrrrr!* *nyodorin uang ke loket* *masnya ngomong pake microphone* “Mbak kereta jam 17.45 pembelian tiket dilayani pukul 15.45” *saya bengong* *ngedumel dalam ati* Itu lama banget kalo mau nunggu dan bisa-bisa sampai rumah malem tapi kalo mau balik kos sama aja hujan dan sampe sana sore juga. Akhirnya saya sms Kak Sat daaaaaaan nggak dibales. What the ~~! Saya telpon pun nggak diangkat...

#CeritadariKereta 3 Nopember 2013

3 Nopember 2013 Hari ini berjalan sedikit absurd, kejadian itu dimulai ketika saya akan balik ke Jogja, saya diantar kakak pukul emmm sekitar emm dua siang. Sampai di Purwosari anginnya lumayan buat ngeringin rambut kalo nggak ada hairdyer, ya bonus debu. Saya ngantri pas lagi mau ngambil dompet di tas ada ibu-ibu nyerobot antrean, oke nunggu ibu itu satu. Terus pas udah dapet giliran saya Tanya sama mas-masnya                 “ Mas, yang ke Jogja Sriwedari yang apa?”                 “Sriwedari mbak, tapi tempat duduknya habis, tinggal yang tanpa tempat duduk”                 Karena saya membawa barang yang lumayan berat, maka                 “ Kalo yang habis ini jam berapa ya...

Jogja dari Matamu

Belakangan ini saya sering mendengarkan lagu-lagu Laruku (lagi). Hitomi no Juunin membuatku ingin bercerita.... Malam yang selalu teduh ini berdiam di matamu yang sendu. Memandang matamu adalah menyusuri Jogja di malam hari, yang indah, banyak lampu-lampu, yang banyak orang ingin kunjungi tapi tak sempat. Aku ingin tinggal disana, di matamu yang sendu dan candu untukku, satu saja jika satu yang lain sudah ada yang menempati. Aku hanya ingin merasakan bagaimana melihat dunia dari matamu yang jernih, bagaimana indah matahari yang hampir tenggelam di Jogja dari matamu. Aku ingin tinggal di sana, beberapa waktu saja. Namun jika keduanya sudah penuh, kau tau aku sudah cukup lama menunggu. Biar aku menunggu saja, sambil meminum kopi, membaca buku dan mendengar mereka yang bermain musik di sore yang jingga. Akan kutunggu dia kosong, dan biar aku hidup untuk memandangi matamu yang memantulkan cahaya Jogja di malam hari. Katakan kepada dia yang tinggal di matamu "Lekaslah kau pergi...

TM Day-2 17 Agustus 2013

Second day TM, we have to attend a 'pitulasan ceremony' to commemorate Indonesia's independence day and to welcome the freshmens. Yes, us. Jadi di hari tersebut kami berkumpul di depan C13 jam 05.30 an sesuai gugus yang udah dibagi dan kami neriakin yel-yel yang udah dihapalin, setelah itu secara berurutan kami digiring ke lapangan kebetulan saya dapet tempat di belakang---ya nggak belakang-belakang banget sih, soalnya yang belakang-belakang dipakai buat yang pake pita--- cuman bisa denger suara tratakdungces (read:marching band) dan suara pak rektor serta suara derap sepatu para paskibra tanpa bisa melihat wujudnya #nasibkurangtinggi. Sebelumnya seseorang menyuruh semua maba meletakkan almamaternya di sebelah kanan, ditaruh di tanah. And you know? That field was full of dusk. Oh meeen sebagai seorang maba kita pasti nggak tega almamater yang baru didapet udah disuruh diletakin di tanah kan? mereka harus bergulat dengan debu, semoga mereka nggak bersin-bersin, aamiin. Seben...

Technical Meeting FBS UNY'13 Day 1

Waktu itu Technical Meeting (TM) hari pertama tanggal 16 Agustus hari Jumat, kami sudah harus berkumpul pagi-pagi di depan C13. Disana sudah ada kakak-kakak yang bawa plang nama-nama senjata daerah dan beberapa maba terlihat desak-desakan di sebelah selatan, mereka melihat pembagian gugus, saya kemudian ikut berdesak-desakan bersama mereka. Mencari nama, prodi dan gugus saya. Setelah ketemu saya ikut berbaris di belakang kakak-kakak yg membawa plang bertuliskan 'Jenawi'. Semua sudah mendapat kelompok/gugus, kami berkenalan satu sama lain meskipun kadang-kadang lupa lagi namanya, setelah itu kami dikondisikan di Stage Tari. Ada acara sambutan, penugasan, dll. Di hari itu kami juga diberi tahu yel-yel. Saya masuk FBS (Fakultas Bahasa dan Seni) jargonnya adalah "Satu Jiwa Mengukir Karya" dan ada beberapa yel-yel yang oke abeesss. Dari stage tari kami berkumpul per gugus, gugus saya berkumpul di parkiran mobil. Kami berkenalan lagi, menyebut nama dan prodi dan oh sastra i...

#CeritadariKamar #Day-5 Rak Buku

Rak di sudut kamar itu semakin ramai, beberapa buku memadatinya. Letaknya berdekatan dengan pintu. Rak itu diam dan tak pernah kesepian, tidak terlalu lebar tapi berisi, buku-buku disana kebanyakan novel karena buku pelajaran sengaja tidak aku taruh di rak itu. Aku berniat memperbesar rak itu suatu saat nanti, mengisinya dengan lebih banyak buku dan salah satu buku itu adalah buku karyaku sendiri.

#CeritadariKamar #Day-4 Jam

Malam dan segala hening yang biasa itu muncul kembali, seolah itulah pekerjaannya, menggantikan siang, sore, kemudian senja. Malam yang sendu itu selalu hadir. Memuai dengan sangat lama untuk menjadi pagi. Yang dapat kutangkap dari malam yang hening itu sebenarnya adalah suara yang riuh tapi menyeramkan, ya riuh itulah yang membuat setiap malamku bahkan semakin hening. Aku menoleh ke sekeliling sudut kamarku, hanya aku sendiri pikirku. Tapi aku mendengar sesuatu yang sangat mengusik, yang menambah hening malam itu. Denting jam yang parau, berat dan serak. Jam itu berwarna hijau tosca di tepinya, dan putih di bagian dalam, angka-angka yang tertera juga berwarna hijau, sedangkan tiga jarumnya, jam dan menit berwarna hitam, detiknya hijau pula. Jam itu sudah ada semenjak aku belum pindah ke kamarku sekarang ini. Suaranya menggangguku, membuatku berpikir bagaimana ia yang tanpa lelah bekerja, berputar setiap hari. Meninggalkan angka yang lama beranjak ke angka selanjutnya tapi pada akh...

#CeritadariKamar #Day-3 Annual Book

Hari Jumat kemarin saya ke sekolah sudah dengan predikat 'alumni'. Banyak teman lama yang ingin saya temui, tapi sampai di sekolah mendadak saya sadar bahwa teman-teman saya sudah banyak yang bekerja atau melanjutkan sekolah di luar kota, terutama teman-teman dekat saya. Kami, saya dan teman-teman yang masih tersisa, menunggu cukup lama disana. Wali kelas kami di kelas XII tampak sedang sibuk sehingga menyuruh kami untuk bersabar. Beberapa waktu kemudian, bu guru wali kelas kami memanggil dan kami mengikuti dengan langkah yang cepat untuk menyeimbangi langkah beliau. Sampai di ruang kantor kami mengantri untuk mendapat ijazah dll dan seperti anak yang baru lulus pada umumnya saya mendapat pertanyaan "Sekarang di mana, Nurma?" dan saya dengan sedikit bosan menjawab pertanyaan tersebut untuk yang ke 9.578.482 kalinya. Tidak, tidak sebanyak itu sebenarnya "Di Jogja, Bu". Tiba giliran saya untuk menandatangani beberapa lembar kertas, kemudian setelah mendapat ...

#CeritadariKamar #Day-2 Binder

Aku saat ini adalah aku yang masih senang bercerita, tapi bukan bercerita kesana kemari melalui perkataan yang aku ucapkan. Aku lebih senang bercerita melalui perkataan yang aku tulis. Pagi dan malam yang sunyi dan dingin adalah waktu yang tepat menurutku untuk menuliskan ceritaku ke dalam paragraf paragraf supaya mereka beku dan dapat ku tilik lagi suatu saat nanti. Aku menuliskannya ke dalam sebuah binder, entah tapi aku senang menulis apapun disana. Aku orang yang senang melamun, ya mungkin semua orang sadar atau tidak sering melakukannya. Dan sekali lagi aku juga senang menuliskan lamunanku itu di binder tadi, mungkin bisa berevolusi menjadi puisi atau cerpen. Bagiku dia seperti blog, ya blog manual tanpa sambungan internet. Dulu ketika masih memakai putih abu-abu temanku sering membaca, lebih tepatnya ku paksa membaca semua karya yang aku tulis disana haha dan mereka juga ku paksa (lagi) menulis komentar tapi mereka malah memberi ucapan yg menyemangati di lembar selanjutnya....

#CeritadariKamar #Day-1 Dream Note

Ah kak @benzbara_ menantang kami membuat #CeritadariKamar. Baiklah Kak Bara, silakan menyimak. Dream note Mimpi. Ah kamu tahu aku sangat menyukai mimpi kan? Pun kamu tahu aku sangat senang menulis. Benda dalam kamar ini memang ku buat sendiri, tapi kau tahu? Dia seperti Ibu yang selalu memarahiku jika aku malas, tidak tidak Ibuku tidak suka marah, maksudku sesuatu yang ku tempel itu seperti memiliki ruh yang membuatku kembali semangat saat aku lengah. Aku menempelkannya di dekat jendela supaya dapat ku baca setiap pagi, ya kamu juga tahu pagi adalah sebuah doa dan harapan, pagi adalah saatnya aku bangun dari mimpiku dan mewujudkannya. Banyak mimpi yang ku tulis. Aku punya cerita menarik tentangnya. Menarik? Bagiku, mungkin bagimu ini membosankan. Aku baru saja lulus SMK tahun ini dan aku ingin kuliah. Ya, mungkin banyak sekali yang memiliki mimpi yang sama denganku, tapi kamu tahu kan? Anak SMK sering kali kesusahan masuk PTN, ya kamu memang serba tahu. Aku menuliskan mimpi itu d...

A Really Short Story about (you and) Only Me

Aku menyesap kedinginan malam ini dalam cangkir kopi berwarna biru pastel sambil sesekali melirik jam dan berharap tumpukan kertas-kertas tugas di depanku ini segera berkurang. Mataku lelah, selelah hati pasangan yang dipisahkan jarak yang menunggu kabar tapi tak terpenuhi, yang hidupnya bersesak sesakan dengan kerinduan Satu jam...dua jam...23:56 Ah, lelah juga, akhirnya aku memutuskan meninggalkan beberapa tugas yang belum selesai padahal deadline tugas tersebut adalah besok. Entah apa yang akan terjadi besok, entah pula yang terjadi pada pasangan jarak jauh yang putus asa. Aku bergegas tidur. Sebelumnya Handphoneku menampilkan sesuatu, reminder yang berisi ulang tahun Dimas. Pikiranku terbang, menerawang ke beberapa waktu lalu saat kami masih bersama. *** Suatu sore dalam bait-bait detik yang kami lalui di jalanan kota, kami bercerita, kami tertawa. Bercerita tentang apapun dengannya adalah masa yang tak mudah aku lepaskan dari memori. Saat kami ...

Analogi Kopi dan Awan

      Awan berangsur-angsur menggelap, langit menuruti keinginan penyair menjadi senja. Seorang gadis mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan celana jeans panjang memasuki sebuah kedai kopi di pinggir jalanan yang sedang macet. Tidak ada yang istimewa dari kedai tersebut kecuali furniture klasik dan cangkir-cangkir kuno yang berada di sudut kedai. Tidak beberapa lama capucino yang dipesannya datang, rasanya nikmat, berbeda dengan capucino yang lain. Itu yang membuat di hari-hari berikutnya dia sering datang kesana. Hingga suatu malam... "Nona Vio, sebentar lagi kedai ini akan tutup" Seseorang telah berdiri di dekat mejanya. Vio kaget sekaligus kikuk. "Eh iya, maaf... Kamu tahu namaku?" "Siapa yang tidak tahu dengan penulis, coffee blogger dan pemain film seperti nona" tidak sedikitpun senyum di wajah barista itu muncul "Kamu berlebihan, oh iya kamu barista disini ya? Kalau ada waktu kita bisa mengobrol. Aku ingin bertanya banyak mengenai...

Senja di Kotaku

Perak-perak yang jatuh pada senja bersisihan Berantakan, tercecer kemudian menyatu kembali Mengalir pada parit-parit dengan gemulai Bersama tenggelamnya matahari di ujung samudra Aku masih menyandar pada awan pink ufos Menunggu gerimis-gerimis menipis Menunggu bangunan tinggi tenggelam di hiruk pikuk lampu merah Melamar rasi-rasi berbentuk imajinasi Kadang jalanan seperti memuai Jarak yang kedinginan Cahaya yang gelap berpendar Menjadi beberapa bagian yang mengantarkanku pada dongeng-dongeng malam Perak-perak yang volumenya membelah diri Semakin larut dalam alunan gelap Sedangkan aku masih disini Mengamati jalan dan jarak yang memuai

Surat untuk Siapa Saja

Belakang ini aku senang menulis surat, meski tanpa alamat tapi aku menujukannya padamu. Hujan belakangan datang tidak teratur, meningkatkan mood ku dengan sangat baik untuk menulis surat-surat ini. Aku tahu di dunia yang sebenarnya kau jarang sekali mendengar ceritaku, bahkan mungkin tidak pernah. Baik, aku sekarang akan mulai bercerita tentang mimpi-mimpiku. Mimpi yang paling dekat adalah lulus SMK dengan nilai yang memuaskan, lalu masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat beasiswa. Kemudian aku ingin benar-benar mewujudkan keinginanku menjadi penulis, membuat buku. Semakin lama tulisanku semakin membaik dan dikenal. Dari situ aku dapat menyimpan sebagian penghasilan untuk mimpi yang lain, membuat coffee shop dan rumah baca tidak lupa mengadakan kelas menulis. Setelah aku tua, aku dapat menikmati alam, melakukan perjalanan yang aku harap dapat kunikmati bersamamu dan kita akan membuat buku tentang perjalanan tersebut, menjadi travel writer. Indah sekali, bukan? Aku akan sangat bahagi...

My Underpressure Daydream

Saya memiliki masalah berat yang tidak bisa saya bagi dan tidak bisa saya simpan sendiri. Maka saya menuliskan ini sebelum akhirnya saya gila nanti, sebelum orang-orang menatap wajah saya dengan ketakutan, sebelum rambut saya kusut karena jarang dicuci, sebelum pikiran saya terkontaminasi dengan hal-hal tidak masuk akal (mungkin sekarang ini sudah sebagian terkontaminasi). Saya yang selalu terlihat ceria, yang selalu tampak tidak memiliki beban ini sebenarnya menyimpan sesuatu. Sedangkan saya lihat orang lain yang dianggap sudah dewasa masih senang mengumbar kesedihannya di depan orang lain, menangis, berteriak, berdiam diri dan menyalahkan orang lain. Apa yang sebenarnya mereka hadapi? Tidakkah masalah saya ini lebih berat dari yang mereka hadapi? Atau saya kah yang terlalu tegar dan tidak peka terhadap rasa sedih? Kadang-kadang sesekali saya mencari, kemana saya bisa pergi? Dapatkah saya diterima disana nanti? Apakah masalah yang saya hadapi dapat berkurang? Pengecut kah saya? Saya ...