Langsung ke konten utama

#CeritadariKereta 3 Nopember 2013



3 Nopember 2013
Hari ini berjalan sedikit absurd, kejadian itu dimulai ketika saya akan balik ke Jogja, saya diantar kakak pukul emmm sekitar emm dua siang. Sampai di Purwosari anginnya lumayan buat ngeringin rambut kalo nggak ada hairdyer, ya bonus debu. Saya ngantri pas lagi mau ngambil dompet di tas ada ibu-ibu nyerobot antrean, oke nunggu ibu itu satu. Terus pas udah dapet giliran saya Tanya sama mas-masnya
                “ Mas, yang ke Jogja Sriwedari yang apa?”
                “Sriwedari mbak, tapi tempat duduknya habis, tinggal yang tanpa tempat duduk”
                Karena saya membawa barang yang lumayan berat, maka
                “ Kalo yang habis ini jam berapa ya, Mas?”
                “Prameks mbak, jam setengah lima.”
                *mikir sambil nengok dan ngasih  kode ke kak sat*
                *kak sat ngomong terserah*
                Setelah memikirkan beberapa pertimbangan
                “Yaudah mas yang prameks aja”
                “nggakpapa mbak?”
                “iya.” *ngasih duit duapuluhribuan* *nunggu kembalian*
                “duapuluhribu ya mbak”
                “oh… iya”
                Setelah saya ngeliatin karcisnya…
                DANG!!! Itu karcis Sriwedari yang tanpa tempat duduk, oke saya jalan ke masuk ke ruang tunggu dengan kesal. Nunggu sambil nggak terima dan ngumpat mas-masnya yang nggak denger tadi. Tiba-tiba ada mbak-mbak yang nanya
                “Mbak gerbong 4 kira-kira depan apa belakang ya?”
                “kayaknya agak belakang mbak.” Saya jawab dengan malas.
                “oh belakang ya? Oke makasih mbak”
                Setelah itu kami jadi ngobrol dikit, jadi dia itu kuliah di ISI Jogja jurusan Seni Pertunjukan dan ngambil seni music piano. Dia asli Medan yang lagi main ke rumah pakdhenya di Solo. And you know what? Dia juga nawarin mau nganter ke kos. And of course I say no, thanks. Because we just known each other just now.
                Kereta datanggggg, saya masuk dan duduk lesehan berpisah dengan mbak-mbak barusan. Di sepanjang perjalanan hujan turun dengan brengseknya dan ada dua mbak-mbak yang lagi cerita ngalor ngidul tentang kuliah di jurusan biologi dan pengen pindah kedokteran karena saya muak saya membuka novel Robinson Crusoe dan membacanya. Tak terasa kami sudah sampai di Stasiun Lempuyangan, hujan masih turun dengan semena-mena. Saya nunggu cukup lama dan berjalan ke arah pintu keluar tapi berhenti daaaaaaan saya ketemu lagi sama mbak-mbak tadi, kami ngobrol lagi dan kenalan kaena tadi lupa, namanya adalah Rachel. Dia ngajak saya makan tapi saya masih kenyang jadi kita ngobrol lagi dia ramah dan baik banget. Karena hujan udah agak reda saya meninggalkannya yang lagi nungguin makanannya datang.
                Sampai di luar gerbang, disms kak sat dan isinya nanyain sampe mana? Dan ngasih saran biar cepet sampai kosan. Saya nanya ibu-ibu pennjual kacang godok perihal tukang ojek dan nanti katanya mau dipanggilin, saya sms kak sat minta dikirimin pulsa tapi di Boyolali ternyata hujannya lebih parah. Kemudian saya cek pulsa m3 saya dan melihat saldo yang tersisa, dengan penuh harapan saya mencoba telpon sepupu, ternyata bisa! Lama kemudian dia dateng, saya lega. Tiba-tiba sepupu saya menjadi sosok yang pacar-able banget. Etapi pasti dia dulu sering masuk ojek-zone L  That’s my #CeritaDariKereta edisi 3 Nopember.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.