Langsung ke konten utama

#CeritadariKereta 20 Desember 2013



20 Desember 2013
PULANG KAMPUNG MEEEN!!! The most exciting day during in Jogja setelah sebulan  lebih ngaak pulang. Pagi-pagi banget saya bangun dengan tingkat ke-excited-an maximal dan tingkat kesadaran masih 76% bukan maksud saya 75,97% setelah kesadaran saya hampir penuh yaitu sekitar 99.98% saya menatap keluar jendela dengan tatapan nanar, hujan deres banget men, HUJAN DERESSS BANGETTT. Oke daripada saya setres saya memilih kembali tidur sampai sekitar jam 07.00 saya bangun lagi dan dengan malas pergi mandi naik ojek karena kamar mandi saya letaknya kayak pindah ke depan rektorat. Setelah itu saya pergi ke stasiun tapi mampir dulu makan setelah itu saya mampir lagi nyari jajan buat bekal di jalan. Sampai shelter Trans Jogja saya nunggu lumayan lama dan naik kemudian turun lagi untuk pindah bus 3A. Nggak ada yang menarik-menarik banget di bus itu agak penuh dan banyak anak SMP. Satu-satunya hal yang menarik perhatian saya adalah ketika ada seorang bapak-bapak duduk di pojok bercerita apapun dengan teman di sampingnya dan sempat berkata “Biasanya dosen peninggalan Belanda itu killer-killer.” (((dosen peninggalan Belanda))) curiga, jangan-jangan dosen saya peninggalan Belanda semua.
                Sampai di stasiun nggak kayak biasanya harus nunggu kereta sekitar satu jaman (1 jam-an) karena kali ini kereta saya sudah datang dan akan berangkat sepuluh menit lagi. Horray! Kembali lagi di kereta nggak ada yang menarik. Saya sih berharapnya kursi empat di kereta itu untuk saya sendiri eh ternyata ada mbak-mbak dan mas-mas yang mukanya mirip actor FTV pacarnya Sharena itu duduk di depan saya. And you know what? Mereka itu pake kaos Jogja couple, gelang couple sandal couple, semuanya serba couple. Disgusting enough, bukan kenapa-kenapa soalnya ya gitu. Tapi mereka ramah banget nawarin makan dan saya nggak mau. Mereka makan kayak belum makan satu jaman (1 zaman). Sampai di stasiun Maguwoharjo saya melihat tulisan yang cukup menarik perhatian “BERHATI-HATILAH DENGAN ORANG ASING YANG MENAWARI MAKANAN DAN MINUMAN KEPADA ANDA SEDANG MARAK PEMBIUSAN.” Ya intinya gitulah… saya langsung panic dan menatap dua orang yang duduk di depan saya itu, jangan-jangan mereka mau membius saya tapi kemudian saya sadar untuk apamereka membius saya? Saya kan nggak bawa apa-apa (bohong, sebenarnya saya bawa buku banyak banget, baju kotor dan leptop yang lemotnya kek pacar baru mantan gebetan). Saya mencoba berpositif thinking dan membuka buku karya Charles Dickens tentang hantu di kereta gitu, untungnya saya lupa kalo saya lagi di kereta jadi nggak takut deh. Mbak-mbak depan saya tadi kayaknya ngantuk dan mas-mas-mirip-pacar-sharena tadi ngasih kode buat si pacarnya buat nyender di bahu dia. Saya juga ikut-ikutan ngantuk dan saya nyender dinding kereta sambil melihat gerimis dan meratapi nasib “Why God? You send me orang-orang kayak ini buat pacaran di depan saya?”
                Perjalanan pagi itu terasa cepat dan indah banget, rasanya kayak di ruang yang nyaman banget gitu tapi saya harus segera turun di stasiun Purwasari. Solo hujan, mungkin karena solo=sendiri jadi solo semacam jomblo gitu. Oke back to the topic, saya sampai Solo sedangkan kakak masih di jalan alhasil saya harus nunggu di  emm di… (ruang tunggu kereta namanya apa ya? Bukan, bukan di peron)  ya itulah…. Saya baca buku dan ngemil ditemani hujan. Lama kemudian kakak saya datang. Kami pulang hujan-hujanan. Mampir ke soto yang Boyolali banget terus lanjut pulang lagi. Sampai jalan deket rumah saya kaget, depan rumah sekarang jadi mini market padahal itu dulunya rumah mbah Iman, nenek-nenek yang sudah saya anggap tetangga sendiri, ya emang tetangga sendiri sih. Nggak tau kudu sedih apa seneng. Terus juga ada tetangga saya nikah dan entah kenapa Boyolali ini hujan terus dan dinginnya kebanget-bangetan. Entahlah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.