Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi lewat facebook oleh seseorang yang saya kenal dari abang saya dan keaktivan beliau di bidang kreatif. Beliau meminta tolong saya untuk menjadi MC di sebuah acara annual. Mendengar Tumang Fair, saya mengingat berapa pasang mata yang akan datang dan siap mengomentari setiap detail yang saya lakukan. Saya juga kembali mengingat berapa kali saya menjadi MC dan bagaimana saya melakukannya. Dengan pengalaman yang minim tersebut saya menjadi tidak yakin, apalagi orang-orang terlanjur melabeli saya dengan orang kalem, sedikit bicara, dan rajin—dan kebanyakan yang mereka pikir salah—tapi memang benar saya akan diam saat saya belum nyaman. Tapi kemudian kakak-kakak saya memberi dorongan untuk mengambil kesempatan itu. Saya juga berpikir ini waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa walaupun saya pendiam tapi saya bisa professional. Lagipula hidup hanya sekali, at least seumur hidup saya pernah melakukan hal yang tidak bisa dilakukan semua orang. ...
Let's have a sisters date by talking about everything you like and worry