Saya
kembali dihubungi untuk ikut rapat tapi tentu saja saya tidak enak jika
tiba-tiba datang. Sehari setelah kakak saya menikah, sebuah undangan untuk
mengikuti rapat datang kepada saya. Saya teringat quote dari seorang teman
sesama sie acara makrab UKM di kampus “Urip mung mampir rapat.” Selasa malam saya
mencari siapa yang kira-kira saya kenal yang juga panitia Tumang Fair kemudian
mengajak berangkat bersama. Rapat itu dua rapat terakhir sebelum hari-H. Saya
mati gaya! Beberapa orang saya kenal, beberapa lainnya membuat saya merasa tidak
enak karena tiba-tiba datang begitu saja. Saya merasa kedatangan saya terlambat
karena hampir seluruh konsep sudah jadi dan tinggal diaplikasikan. Mungkin
sebagian besar dari mereka merasa asing melihat kedatangan saya tapi saya
mencoba sok asik dan mengajak kenalan dan ternyata mereka orang-orang yang baik
dan ramah. Kemudian saya ditarik ke sie acara dan saya benar-benar dimintai
tolong untuk menjadi MC. MC yang ditulis ada beberapa orang dan katanya akan
dibagi per shift.
Beberapa
hari sebelum hari-H teman-teman panitia mulai ‘sambatan’ membuat ini itu. Saya
semakin hari bersama teman-teman ini merasa semakin dekat dan merasakan
bagaimana dedikasi untuk acara ini. Teman-teman cowok membuat panggung dari malam
sampai pagi (Ku rela~pergi~pagi~pulang pagiii~~ Hahaha). Saya dan beberapa
teman cewek rela menipiskan bambu-bambu yang katanya akan digunakan untuk
tempat sampah (sebelumnya saya udah nanya apa nggak ada yang lebih efektif dan
efisien selain pakai bambu) dan ternyata beneran nggak dipakai. :’) Ada yang sampai
menginap di balai desa, ada yang bahkan rela tidak mandi dan membolos bekerja atau kuliah. Ada yang rela bertemu anak istri
dua jam selama seminggu. Saya sendiri tidak begitu banyak berkorban karena
kuliah memang sedang libur paling hanya mengorbankan waktu yang biasa saya
gunakan untuk membaca atau tidur untuk mengedit yang perlu diedit. Dan kami tetap harus menerima komentar yang
tidak semuanya positif dari luar.
This
is D-Day!
I’m
so excited! Saya adalah tipikal orang yang mudah sekali grogi ketika menghadapi
orang banyak. Itu sebabnya saya memilih menjadi penyiar radio daripada MC
tetapi saya kembali berpikir jika seorang penyiar radio biasanya adalah mereka
yang juga mampu menjadi public speaker di depan orang banyak yang baik. Belajar
dari pengalaman ketika menjadi MC karnaval kemarin, saya sama sekali tidak
grogi. Jadi, grogi adalah sugesti dan saya harus mampu mengatasinya. Dan saya
mampu mengatasinya. Saya sama sekali tidak grogi. Menjadi MC bukan hanya perihal
berbicara di depan orang banyak. Perlu berbagai koordinasi dengan berbagai
pihak seperti LO dan stage manager. And the agreement as having more than two
MCs divided in shift wasn’t real. Saya selama tiga hari tiga malam berturut-turut
menjadi MC bersama seorang partner dengan jam terbang tinggi yang suaranya
empuk sekali kayak klepon sedangkan suara saya lebih mirip jadah mal praktik,
atos. Dalam keadaan seperti ini saya selalu diburu waktu. Baru saja pulang
break untuk mandi, harus dandan, tidak sempat makan dan kembali memasang muka
manis untuk menghindari kesan arogan. Di hari ke dua, saat acara terakhir
sebelum break maghrib, saya dan partner saya sudah sekalian menutup acara dan
kami berencana istirahat sebentar mencari jajan ke stand-stand. Sedang asik
minum es kuwud, tiba-tiba teman saya memanggil “Stage kosong” katanya, saya
lari dari ujung gerbang sebelah timur sampai ke stage utama—sampai nabrak-nabrak
pengunjung dan langsung mendapat tatapan sinis. Baru sebentar saja mau
istirahat kami sudah harus cuap-cuap kembali. Saya juga yakin, teman-teman dari
sie lain sama sibuknya. Dengan kesibukan pikiran dan harus mondar-mandir
seperti itu, kami kadang tidak sempat memedulikan sekitar. Pengunjung yang
merasa megenal kami mungkin sempat merasa bahwa kami arogan karena tidak semua
bisa kami sapa. Pengalaman kena semprot pasti dialami oleh sebagian panitia
karena beberapa pengunjung bersifat ngeyel. Jalur panitia yang seharusnya clear
malah dipakai untuk menonton walhasil akses panitia sedikit terhambat. Beberapa teman sudah mengingatkan tapi mereka
kembali maju, diingatkan lagi, maju lagi, gitu terus sampai Tumang Fair bisa
bikin Oasis reuni. Ketika turun dan menuju sekretariat saya harus melewati
kerumunan itu dengan berdesak-desakan daaan harus kena semprot ibu-ibu yang
membawa anak kecil dan anak kecil itu desak-desakan di bawah. Sudah salah tapi
malah balik menyalahkan. Ibu-ibu itu marah, saya—dengan disabar-sabarkan—harus kembali
menjelaskan bahwa itu jalur akses panitia. Ibu itu diam saja dengan tatapan ya
begitulah, dan anaknya merengek, untung nggak keinjek, Bu. Teman saya
menertawai di depan “Mbak, aku nganti kesel sing kon minggir.” Katanya dan
teman panitia saya yang lainnya yang sekaligus anak pak lurah pun kena semprot.
Kesabaran kami diuji. Tidak hanya secara langsung tapi media sosial yang
membuat kita lebih mudah menyampaikan pikiran pun digunakan untuk memberi kritik.
Jadi saya secara pribadi ingin meminta maaf
jika saya terkesan sok sibuk, sok yes, arogan, kemayu or what so ever.
Percayalah itu semua karena keadaan.
Di
Tumang Fair 2015 ini banyak sekali momen, teman-teman baru dengan berbagai latar belakang dan joke yang berbeda-beda tapi tetap bersatu #ciegitu, dan juga pengalaman
yang sangat berharga. Mulai dari ketemu teman-teman lama, banyak sekali orang
yang bilang “Ternyata Arum iso ngomong”. Kaget? Sama, saya juga. Hingga ketemu mantan
yang ngegombalin di depan emaknya. De’e ncen petuk banget—segala CLBK di
on-mic-in opo banget. Isin. -_- daaaaaaaaan yang
terpenting dengan menjadi MC di Tumang Fair 2015, saya jadi bisa pakai alis. Ini
penting nih.
![]() |
| Ngemsi dengan penonton paling depan temen-temen kecil sendiri |
![]() |
| Fisip Meraung; Nggak boleh ikut foto. :( |
![]() |
| Christi Colondam |
![]() |
| Teman-teman baru> teman mas dari jaman isih cilik> temen-temen SD |




Klepon mbi jadah mal praktek??hahaha
BalasHapusBagiku wes koyo cotot anget kabeh..joooosss gaandooosss....
Mbi sing nyepik neng stand barang...jare adiku lho..haha
Haha terimakasih Mas. Adimu sopo Mas?
BalasHapus