Langsung ke konten utama

Behind The Stage Tumang Fair 2015

Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi lewat facebook oleh seseorang yang saya kenal dari abang saya dan keaktivan beliau di bidang kreatif. Beliau meminta tolong saya untuk menjadi MC di sebuah acara annual. Mendengar Tumang Fair, saya mengingat berapa pasang mata yang akan datang dan siap mengomentari setiap detail yang saya lakukan. Saya juga kembali mengingat berapa kali saya menjadi MC dan bagaimana saya melakukannya. Dengan pengalaman yang minim tersebut saya menjadi tidak yakin, apalagi orang-orang  terlanjur melabeli saya dengan orang kalem, sedikit bicara, dan rajin—dan kebanyakan yang mereka pikir salah—tapi memang benar saya akan diam saat saya belum nyaman. Tapi kemudian kakak-kakak saya memberi dorongan untuk mengambil kesempatan itu. Saya juga berpikir ini waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa walaupun saya pendiam tapi saya bisa professional. Lagipula hidup hanya sekali, at least seumur hidup saya pernah melakukan hal yang tidak bisa dilakukan semua orang. Hahaha.
Saya kembali dihubungi untuk ikut rapat tapi tentu saja saya tidak enak jika tiba-tiba datang. Sehari setelah kakak saya menikah, sebuah undangan untuk mengikuti rapat datang kepada saya. Saya teringat quote dari seorang teman sesama sie acara makrab UKM di kampus “Urip mung mampir rapat.” Selasa malam saya mencari siapa yang kira-kira saya kenal yang juga panitia Tumang Fair kemudian mengajak berangkat bersama. Rapat itu dua rapat terakhir sebelum hari-H. Saya mati gaya! Beberapa orang saya kenal, beberapa lainnya membuat saya merasa tidak enak karena tiba-tiba datang begitu saja. Saya merasa kedatangan saya terlambat karena hampir seluruh konsep sudah jadi dan tinggal diaplikasikan. Mungkin sebagian besar dari mereka merasa asing melihat kedatangan saya tapi saya mencoba sok asik dan mengajak kenalan dan ternyata mereka orang-orang yang baik dan ramah. Kemudian saya ditarik ke sie acara dan saya benar-benar dimintai tolong untuk menjadi MC. MC yang ditulis ada beberapa orang dan katanya akan dibagi per shift.
Beberapa hari sebelum hari-H teman-teman panitia mulai ‘sambatan’ membuat ini itu. Saya semakin hari bersama teman-teman ini merasa semakin dekat dan merasakan bagaimana dedikasi untuk acara ini. Teman-teman cowok membuat panggung dari malam sampai pagi (Ku rela~pergi~pagi~pulang pagiii~~ Hahaha). Saya dan beberapa teman cewek rela menipiskan bambu-bambu yang katanya akan digunakan untuk tempat sampah (sebelumnya saya udah nanya apa nggak ada yang lebih efektif dan efisien selain pakai bambu) dan ternyata beneran nggak dipakai. :’) Ada yang sampai menginap di balai desa, ada yang bahkan rela tidak mandi dan membolos bekerja  atau kuliah. Ada yang rela bertemu anak istri dua jam selama seminggu. Saya sendiri tidak begitu banyak berkorban karena kuliah memang sedang libur paling hanya mengorbankan waktu yang biasa saya gunakan untuk membaca atau tidur untuk mengedit yang perlu diedit.  Dan kami tetap harus menerima komentar yang tidak semuanya positif dari luar.

This is D-Day!

I’m so excited! Saya adalah tipikal orang yang mudah sekali grogi ketika menghadapi orang banyak. Itu sebabnya saya memilih menjadi penyiar radio daripada MC tetapi saya kembali berpikir jika seorang penyiar radio biasanya adalah mereka yang juga mampu menjadi public speaker di depan orang banyak yang baik. Belajar dari pengalaman ketika menjadi MC karnaval kemarin, saya sama sekali tidak grogi. Jadi, grogi adalah sugesti dan saya harus mampu mengatasinya. Dan saya mampu mengatasinya. Saya sama sekali tidak grogi. Menjadi MC bukan hanya perihal berbicara di depan orang banyak. Perlu berbagai koordinasi dengan berbagai pihak seperti LO dan stage manager. And the agreement as having more than two MCs divided in shift wasn’t real. Saya selama tiga hari tiga malam berturut-turut menjadi MC bersama seorang partner dengan jam terbang tinggi yang suaranya empuk sekali kayak klepon sedangkan suara saya lebih mirip jadah mal praktik, atos. Dalam keadaan seperti ini saya selalu diburu waktu. Baru saja pulang break untuk mandi, harus dandan, tidak sempat makan dan kembali memasang muka manis untuk menghindari kesan arogan. Di hari ke dua, saat acara terakhir sebelum break maghrib, saya dan partner saya sudah sekalian menutup acara dan kami berencana istirahat sebentar mencari jajan ke stand-stand. Sedang asik minum es kuwud, tiba-tiba teman saya memanggil “Stage kosong” katanya, saya lari dari ujung gerbang sebelah timur sampai ke stage utama—sampai nabrak-nabrak pengunjung dan langsung mendapat tatapan sinis. Baru sebentar saja mau istirahat kami sudah harus cuap-cuap kembali. Saya juga yakin, teman-teman dari sie lain sama sibuknya. Dengan kesibukan pikiran dan harus mondar-mandir seperti itu, kami kadang tidak sempat memedulikan sekitar. Pengunjung yang merasa megenal kami mungkin sempat merasa bahwa kami arogan karena tidak semua bisa kami sapa. Pengalaman kena semprot pasti dialami oleh sebagian panitia karena beberapa pengunjung bersifat ngeyel. Jalur panitia yang seharusnya clear malah dipakai untuk menonton walhasil akses panitia sedikit terhambat.  Beberapa teman sudah mengingatkan tapi mereka kembali maju, diingatkan lagi, maju lagi, gitu terus sampai Tumang Fair bisa bikin Oasis reuni. Ketika turun dan menuju sekretariat saya harus melewati kerumunan itu dengan berdesak-desakan daaan harus kena semprot ibu-ibu yang membawa anak kecil dan anak kecil itu desak-desakan di bawah. Sudah salah tapi malah balik menyalahkan. Ibu-ibu itu marah, saya—dengan disabar-sabarkan—harus kembali menjelaskan bahwa itu jalur akses panitia. Ibu itu diam saja dengan tatapan ya begitulah, dan anaknya merengek, untung nggak keinjek, Bu. Teman saya menertawai di depan “Mbak, aku nganti kesel sing kon minggir.” Katanya dan teman panitia saya yang lainnya yang sekaligus anak pak lurah pun kena semprot. Kesabaran kami diuji. Tidak hanya secara langsung tapi media sosial yang membuat kita lebih mudah menyampaikan pikiran pun digunakan untuk memberi kritik. Jadi saya secara pribadi ingin meminta maaf  jika saya terkesan sok sibuk, sok yes, arogan, kemayu or what so ever. Percayalah itu semua karena keadaan.

Di Tumang Fair 2015 ini banyak sekali momen, teman-teman baru dengan berbagai latar belakang dan joke yang berbeda-beda tapi tetap bersatu #ciegitu, dan juga pengalaman yang sangat berharga. Mulai dari ketemu teman-teman lama, banyak sekali orang yang bilang “Ternyata Arum iso ngomong”. Kaget? Sama, saya juga. Hingga ketemu mantan yang ngegombalin di depan emaknya. De’e ncen petuk banget—segala CLBK di on-mic-in opo banget. Isin. -_- daaaaaaaaan yang terpenting dengan menjadi MC di Tumang Fair 2015, saya jadi bisa pakai alis. Ini penting nih.

Ngemsi dengan penonton paling depan temen-temen kecil sendiri
Fisip Meraung; Nggak boleh ikut foto. :(
Christi Colondam
Finally, I would like to say thanks to all crew, sponsor, semua masyarakat Tumang dan sekitarnya, pengisi acara dan semua pihak yang terlibat di acara ini. We’re nothing without your support and criticism. See you at Tumang Fair 2016 everybody.


Teman-teman baru> teman mas dari jaman isih cilik> temen-temen SD




Komentar

  1. Klepon mbi jadah mal praktek??hahaha
    Bagiku wes koyo cotot anget kabeh..joooosss gaandooosss....
    Mbi sing nyepik neng stand barang...jare adiku lho..haha

    BalasHapus
  2. Haha terimakasih Mas. Adimu sopo Mas?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.