Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

The Man Who Sold The Words

Ini adalah tugas creative writing yang ditugaskan oleh seorang dosen beberapa minggu yang lalu. Bahasanya terlalu lugas dan tidak ada yang menarik, Grammarnya mungkin masih ada yang salah. Judulnya terinspirasi dari judul lagu Nirvana "The Man Who Sold The World". Anyway, selamat hari blogger nasional! I remember the first time we met. The boy was sitting in a corner of a coffee shop—two floors coffee shop with a bookstore in the first floor. He knocked the table in rhythm with the beat of the song while reading a book. He wore a flannel shirt which the sleeve rolled up to the elbow, ripped jeans, and a pair of converse. By his side there was nobody but a bag. He also wore very thick glasses which he did no need to pull up because his pointed nose already helped to hold them. His lips were not too red because I thought he likes drinking coffee, a black coffee, like the one which was served in front of him. His hair was long enough for a man. Sitting in a coffee shop whil...

Ulang Tahun?

Ulang tahun barangkali bagi sebagian orang adalah pendar kembang api yang dinyalakan saat jam sedang duabelas-duabelasnya. Seperti menyambut tahun yang baru dan seolah-olah sesuatu yang baik akan terjadi setelahnya. Merobek tanggal terakhir dan menemui tanggal yang baru adalah sedang menghitung mundur bom yang kita tidak tahu kapan ia akan meledak. Padahal pada akhirnya tetap  akan meledak. Dan kita? Mati. Tapi orang-orang justru akan berbahagia. Menganggap bom yang meledak itu nantinya adalah pendar-pendar kembang api. Dan kita? Lahir kembali. Barangkali pesta-pesta dan riuh rendah musik edm adalah bentuk syukur orang-orang bahwa mereka masih diberi hidup sampai sekarang. Kalau nanti di akhirat mungkin mereka tidak akan lagi merayakannya. Kau tahu? Karena hidup sesudah mati adalah abadi. Siapa lagi yang peduli dengan umur? Umur duapuluh sekian adalah umur dimana orang rawan bunuh diri, Kurt Cobain mengakhiri hidupnya di umur 27 tahun,bahkan  Chairil Anwar mati di umur 26...

Behind The Stage Tumang Fair 2015

Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi lewat facebook oleh seseorang yang saya kenal dari abang saya dan keaktivan beliau di bidang kreatif. Beliau meminta tolong saya untuk menjadi MC di sebuah acara annual. Mendengar Tumang Fair, saya mengingat berapa pasang mata yang akan datang dan siap mengomentari setiap detail yang saya lakukan. Saya juga kembali mengingat berapa kali saya menjadi MC dan bagaimana saya melakukannya. Dengan pengalaman yang minim tersebut saya menjadi tidak yakin, apalagi orang-orang   terlanjur melabeli saya dengan orang kalem, sedikit bicara, dan rajin—dan kebanyakan yang mereka pikir salah—tapi memang benar saya akan diam saat saya belum nyaman. Tapi kemudian kakak-kakak saya memberi dorongan untuk mengambil kesempatan itu. Saya juga berpikir ini waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa walaupun saya pendiam tapi saya bisa professional. Lagipula hidup hanya sekali, at least seumur hidup saya pernah melakukan hal yang tidak bisa dilakukan semua orang. ...

Officially Twenty

Today, I’m officially 20! Saya tidak terlalu excited saat berulangtahun but this is twenty. Yang membuat saya bersyukur adalah that I’m still alive in this year. I’ve lived for twenty years. Ulang tahun kali ini too ordinary. Semalam saya tidur pukul setengah duabelas, bukan karena excited terus ketiduran tapi saya memang belakangan susah tidur. Saya mendengarkan radio—karena salah seorang penyiar yang senang memutarkan lagu 90s sedang siaran— , membaca buku, dan chat membahas sebuah event. Paginya saya hanya melek sebentar, megecek smartphone ketika sahur karena memang saya tidak puasa, kemudian saya tidur lagi lalu bangun pukul tujuh. Beberapa orang mengucapakan selamat ulang tahun melalui bbm dan whatsapp. Tidak seheboh ketika dulu saya masih sangat aktif di facebook, hanya beberapa teman saja yang mengucapkan apalagi di twitter. Saya tidak begitu peduli karena menurut saya tidak hanya di 14 Juli umur saya bertambah. Kebanyakan saya melewati ulang tahun saya ketika libur panjan...

Surat untuk Hanna (2)

Kembali Josh menitipkan suratnya melalui aku yang sedang kedinginan di rumahku di kaki gunung tapi baru sempat aku sampaikan ketika aku di Jogja. Oh, Josh ku harap kamu tidak marah. Bukankah jatuh cinta telah mengajarkanmu kesabaran? Aku belum membuka isi surat itu dan langsung aku paste di sini. Aku harap isi suratnya bukanlah bualan lagi. Selamat pagi, Hanna yang mungkin saja belum bangun. Angin menggerak-gerakkan daun-daun kecil pohon cengkih yang tumbuh sendirian di pekarangan rumahku. Aku pikir daun-daun itu tegar, Hanna. Walaupun diterpa angin yang cukup besar mereka tetap setia melekat pada ranting dan ranting bersetia pada batang pohon untuk tidak jatuh. Mereka bisa saja menjadi rapuh dan lepas tapi lihatlah, mereka tetap berusaha saling bergenggaman. Ku harap kamu juga demikian, Hanna. Meskipun berada jauh dari sini dan diterpa penganggu, ku harap kamu tetap bersetia kepadaku. -Josh-