Today, I’m officially 20!
Saya tidak terlalu excited saat berulangtahun but this is twenty.
Yang membuat saya bersyukur adalah that I’m still alive in this year. I’ve
lived for twenty years. Ulang tahun kali ini too ordinary. Semalam saya tidur
pukul setengah duabelas, bukan karena excited terus ketiduran tapi saya memang
belakangan susah tidur. Saya mendengarkan radio—karena salah seorang penyiar
yang senang memutarkan lagu 90s sedang siaran— , membaca buku, dan chat
membahas sebuah event. Paginya saya hanya melek sebentar, megecek smartphone
ketika sahur karena memang saya tidak puasa, kemudian saya tidur lagi lalu
bangun pukul tujuh. Beberapa orang mengucapakan selamat ulang tahun melalui bbm
dan whatsapp. Tidak seheboh ketika dulu saya masih sangat aktif di facebook,
hanya beberapa teman saja yang mengucapkan apalagi di twitter. Saya tidak
begitu peduli karena menurut saya tidak hanya di 14 Juli umur saya bertambah.
Kebanyakan saya melewati ulang tahun saya ketika libur panjang, jadi saya tidak
bisa merayakan bersama teman-teman. Ketika saya menulis ini, salah seorang
memberitakan ulang tahun saya di grup yang kemudian smart phone saya ramai
kembali. Then I realize I have many friends, at least who know that I exist.
Twenty means memasuki
kepala dua. Living these twenty years, I got a lot of things learned. Mendapat
begitu banyak kenalan baru, yang beberapa juga mungkin sudah lupa, mendapat
beberapa teman yang justru mungkin sekarang menghindari saya karena sifat-sifat
saya yang menyebalkan, dan mendapat beberapa sahabat yang mungkin terpaksa
bertahan berteman dengan saya karena menuntut setiap hari harus bersama saya,
serta kenalan-kenalan baru yang saya bangga
mengenalnya.
Banyak orang yang baru kenal saya akan menge-judge saya
adalah gadis kecil pendiam, kalem, rajin, baik, dan pintar karena settingan
muka saya yang seperti ini. Kemudian menyalah-nyalahkan saya juga karena pada
akhirnya tau kalau I’m not that perfect. They judge me without knowing me well
and they blame me as if I’m sok alim. Teman-teman lama saya—atau teman baru yang
sudah membuat saya merasa nyaman—akan memaklumi saya yang seperti ini. I have
known people with different background. Thus, I learned a lot from them.
Teman-teman di lingkungan saya ketika TK dan SD, teman-teman di lingkungan yang
lebih luas di SMP dan SMK, dan teman-teman yang benar-benar baru di Jogja dan
Solo. Semakin bertambah umur saya, semakin luas pergaulan saya, semakin saya
berpikir dan belajar how to act in a particular condition. Saya juga bersyukur
bisa menjadi salah satu bagian dari sebuah organisasi . Saya dulunya bukan
orang yang begitu peduli dengan hal-hal semacam itu (mungkin jika ini bukan
salah satu passion saya, saya juga belum begitu menginginkan gabung dengan
organisasi). Saya dua kali mendaftar UKM jurnalistik, sekali mendaftar UKM
sastra dan berakhir di UKM broadcasting ini. Teman-teman di sini membuat saya
merasa menemukan keluarga baru. Banyak orang-orang keren yang saya kenal
menginspirasi dan mereka memperkenalkan saya dengan hal-hal baru yang kemudian
saya sukai. Saya mendapat berbagai kesempatan karena organisasi ini. Saya
menjadi lebih banyak kenal teman-teman radio yang bukan hanya di Jogja tapi
juga Solo. And having a lot of friends is exciting.
Twenty years do not mean I’m always happy. I spend a lot of
time being bored, sad, lonely, and broken heart. Knowing many people and being
a cancerian makes me so sensitive. That’s why broken heart is something
familiar. I thank for my exes who taught me how to be not selfish, although I’m
still. I also thank for my haters—haha sok ngartis banget, Mbak punya haters? Well,
I know when there is someone exist, there are also haters.
Twenty years I’ve done many mistakes to everyone, sure. Ayah
Ibu saya yang sudah berulang kali harus bersabar karena ulah anak paling
kecilnya ini. Begitu juga kakak-kakak saya yang kadang saya rindukan. Saya
empat bersaudara dan dua Mbak saya sudah menikah, Mas saya juga akan
melangsungkan pernikahannya setelah lebaran. Mereka sibuk dengan keluarga
barunya. Teman-teman lawas saya kebanyakan merantau. Saya di sini begini-gini
saja.
Banyak hal yang saya capai ada pula banyak hal yang gagal
saya dapatkan selama ini. Kebanyakan gagal disebabkan karena saya yang terlalu
malas atau terlalu banyak memikirkan tanpa take action.
Well, I’d like to say thanks for people who have accompanied
me during my childhood and teens. In my twenty I wish I could be selfless,
doing more good things, wiser and of course being more mature.
Komentar
Posting Komentar