Malam dan segala hening yang biasa itu muncul kembali, seolah itulah pekerjaannya, menggantikan siang, sore, kemudian senja. Malam yang sendu itu selalu hadir. Memuai dengan sangat lama untuk menjadi pagi.
Yang dapat kutangkap dari malam yang hening itu sebenarnya adalah suara yang riuh tapi menyeramkan, ya riuh itulah yang membuat setiap malamku bahkan semakin hening.
Aku menoleh ke sekeliling sudut kamarku, hanya aku sendiri pikirku. Tapi aku mendengar sesuatu yang sangat mengusik, yang menambah hening malam itu. Denting jam yang parau, berat dan serak. Jam itu berwarna hijau tosca di tepinya, dan putih di bagian dalam, angka-angka yang tertera juga berwarna hijau, sedangkan tiga jarumnya, jam dan menit berwarna hitam, detiknya hijau pula. Jam itu sudah ada semenjak aku belum pindah ke kamarku sekarang ini. Suaranya menggangguku, membuatku berpikir bagaimana ia yang tanpa lelah bekerja, berputar setiap hari. Meninggalkan angka yang lama beranjak ke angka selanjutnya tapi pada akhirnya dia kembali ke angka yang ditinggalkannya tadi. Tidakkah dia merasa bosan? Atau sebenarnya dia memang bosan, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa karena dia dikendalikan sesuatu? Aku berpikir, mungkinkah manusia juga sebenarnya sering melakukan hal yang membosankan karena dikendalikan sesuatu? Lalu apa yang sebenarnya mengendalikannya? Uang? Ya kita maksudku sebagian besar dari kita dipaksa mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya tak kita suka hanya karena uang, bukankah begitu? Hal yang membosankan lebih sering kita lakukan daripada yang kita senangi demi uang, kan? Jadi benarkah aku katakan jika sebenarnya jika kita kurang hati-hati uang yang akan mengendalikan kehidupan kita yang sebenarnya menyenangkan.
Denting jam itu terus terdengar, semakin parau dan semakin berat. Suaranya semakin riuh ditambah seorang pekerja pandai tembaga yang dengan kurang ajar bekerja jam semalam itu. Tapi justru itu membuat malamku semakin hening dan larut dalam pikiran-pikiran itu, ya.. entah.
Yang dapat kutangkap dari malam yang hening itu sebenarnya adalah suara yang riuh tapi menyeramkan, ya riuh itulah yang membuat setiap malamku bahkan semakin hening.
Aku menoleh ke sekeliling sudut kamarku, hanya aku sendiri pikirku. Tapi aku mendengar sesuatu yang sangat mengusik, yang menambah hening malam itu. Denting jam yang parau, berat dan serak. Jam itu berwarna hijau tosca di tepinya, dan putih di bagian dalam, angka-angka yang tertera juga berwarna hijau, sedangkan tiga jarumnya, jam dan menit berwarna hitam, detiknya hijau pula. Jam itu sudah ada semenjak aku belum pindah ke kamarku sekarang ini. Suaranya menggangguku, membuatku berpikir bagaimana ia yang tanpa lelah bekerja, berputar setiap hari. Meninggalkan angka yang lama beranjak ke angka selanjutnya tapi pada akhirnya dia kembali ke angka yang ditinggalkannya tadi. Tidakkah dia merasa bosan? Atau sebenarnya dia memang bosan, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa karena dia dikendalikan sesuatu? Aku berpikir, mungkinkah manusia juga sebenarnya sering melakukan hal yang membosankan karena dikendalikan sesuatu? Lalu apa yang sebenarnya mengendalikannya? Uang? Ya kita maksudku sebagian besar dari kita dipaksa mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya tak kita suka hanya karena uang, bukankah begitu? Hal yang membosankan lebih sering kita lakukan daripada yang kita senangi demi uang, kan? Jadi benarkah aku katakan jika sebenarnya jika kita kurang hati-hati uang yang akan mengendalikan kehidupan kita yang sebenarnya menyenangkan.
Denting jam itu terus terdengar, semakin parau dan semakin berat. Suaranya semakin riuh ditambah seorang pekerja pandai tembaga yang dengan kurang ajar bekerja jam semalam itu. Tapi justru itu membuat malamku semakin hening dan larut dalam pikiran-pikiran itu, ya.. entah.
Komentar
Posting Komentar