Langsung ke konten utama

#CeritadariKamar #Day-4 Jam

Malam dan segala hening yang biasa itu muncul kembali, seolah itulah pekerjaannya, menggantikan siang, sore, kemudian senja. Malam yang sendu itu selalu hadir. Memuai dengan sangat lama untuk menjadi pagi.

Yang dapat kutangkap dari malam yang hening itu sebenarnya adalah suara yang riuh tapi menyeramkan, ya riuh itulah yang membuat setiap malamku bahkan semakin hening.

Aku menoleh ke sekeliling sudut kamarku, hanya aku sendiri pikirku. Tapi aku mendengar sesuatu yang sangat mengusik, yang menambah hening malam itu. Denting jam yang parau, berat dan serak. Jam itu berwarna hijau tosca di tepinya, dan putih di bagian dalam, angka-angka yang tertera juga berwarna hijau, sedangkan tiga jarumnya, jam dan menit berwarna hitam, detiknya hijau pula. Jam itu sudah ada semenjak aku belum pindah ke kamarku sekarang ini. Suaranya menggangguku, membuatku berpikir bagaimana ia yang tanpa lelah bekerja, berputar setiap hari. Meninggalkan angka yang lama beranjak ke angka selanjutnya tapi pada akhirnya dia kembali ke angka yang ditinggalkannya tadi. Tidakkah dia merasa bosan? Atau sebenarnya dia memang bosan, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa karena dia dikendalikan sesuatu? Aku berpikir, mungkinkah manusia juga sebenarnya sering melakukan hal yang membosankan karena dikendalikan sesuatu? Lalu apa yang sebenarnya mengendalikannya? Uang? Ya kita maksudku sebagian besar dari kita dipaksa mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya tak kita suka hanya karena uang, bukankah begitu? Hal yang membosankan lebih sering kita lakukan daripada yang kita senangi demi uang, kan? Jadi benarkah aku katakan jika sebenarnya jika kita kurang hati-hati uang yang akan mengendalikan kehidupan kita yang sebenarnya menyenangkan.

Denting jam itu terus terdengar, semakin parau dan semakin berat. Suaranya semakin riuh ditambah seorang pekerja pandai tembaga yang dengan kurang ajar bekerja jam semalam itu. Tapi justru itu membuat malamku semakin hening dan larut dalam pikiran-pikiran itu, ya.. entah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.