Langsung ke konten utama

Surat untuk Siapa Saja

Belakang ini aku senang menulis surat, meski tanpa alamat tapi aku menujukannya padamu. Hujan belakangan datang tidak teratur, meningkatkan mood ku dengan sangat baik untuk menulis surat-surat ini. Aku tahu di dunia yang sebenarnya kau jarang sekali mendengar ceritaku, bahkan mungkin tidak pernah. Baik, aku sekarang akan mulai bercerita tentang mimpi-mimpiku. Mimpi yang paling dekat adalah lulus SMK dengan nilai yang memuaskan, lalu masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat beasiswa. Kemudian aku ingin benar-benar mewujudkan keinginanku menjadi penulis, membuat buku. Semakin lama tulisanku semakin membaik dan dikenal. Dari situ aku dapat menyimpan sebagian penghasilan untuk mimpi yang lain, membuat coffee shop dan rumah baca tidak lupa mengadakan kelas menulis. Setelah aku tua, aku dapat menikmati alam, melakukan perjalanan yang aku harap dapat kunikmati bersamamu dan kita akan membuat buku tentang perjalanan tersebut, menjadi travel writer. Indah sekali, bukan? Aku akan sangat bahagia jika salah satu dari mimpi-mimpiku tersebut dapat tercapai. Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca surat ini :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.