Langsung ke konten utama

My Underpressure Daydream

Saya memiliki masalah berat yang tidak bisa saya bagi dan tidak bisa saya simpan sendiri. Maka saya menuliskan ini sebelum akhirnya saya gila nanti, sebelum orang-orang menatap wajah saya dengan ketakutan, sebelum rambut saya kusut karena jarang dicuci, sebelum pikiran saya terkontaminasi dengan hal-hal tidak masuk akal (mungkin sekarang ini sudah sebagian terkontaminasi). Saya yang selalu terlihat ceria, yang selalu tampak tidak memiliki beban ini sebenarnya menyimpan sesuatu. Sedangkan saya lihat orang lain yang dianggap sudah dewasa masih senang mengumbar kesedihannya di depan orang lain, menangis, berteriak, berdiam diri dan menyalahkan orang lain. Apa yang sebenarnya mereka hadapi? Tidakkah masalah saya ini lebih berat dari yang mereka hadapi? Atau saya kah yang terlalu tegar dan tidak peka terhadap rasa sedih?
Kadang-kadang sesekali saya mencari, kemana saya bisa pergi? Dapatkah saya diterima disana nanti? Apakah masalah yang saya hadapi dapat berkurang? Pengecut kah saya? Saya hanya bisa berdoa, memaksa diam, kadang-kadang pura-pura tertawa dan menyemangati orang lain sambil menunggu kapan saya sendiri menjadi gila. Kapan yang ada di pikiran saya bisa benar-benar lenyap atau setidaknya dapat saya lupakan.

Saya menuliskan kalimat-kalimat ini di sini karena saya tahu blog saya ini jarang dikunjungi. Dan saya hanya menulis apa yang sempat ingin saya ungkapkan, mungkin hanya saya dan Tuhan yang tahu maksudnya (:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.