Langsung ke konten utama

Peri Hujan dan Cinta Yang Tak Tersampaikan

             Salah seorang temanku belakangan ini bertingkah seperti anak kecil, tepatnya saat musim hujan datang. Dia berkata bahwa akan ada peri hujan saat kau sedang meneduh sendirian. Peri itu akan membawakanmu seorang pangeran untuk menemanimu meneduh dan jika kau beruntung maka suatu hari kalian akan menikah. Aku lama-lama mulai mual mendengar ceritanya. Kami memang mahasiswa jurusan sastra tapi sastrawan sekalipun tidak akan membawa imajinasinya ke kehidupan nyata, jika sudah seperti itu maka dia orang gila. Dia sebenarnya adalah seorang perempuan lajang yang beberapa kali membaca karya Sylvia Plath atau beberapa tulisan Dewi Lestari tapi entah kenapa saat musim hujan datang dia bukannya terserang flu tetapi malah terserang dongeng yang entah dia dapat dari mana.
                “Kamu tahu? Diantara jutaan bulir hujan itu ada beberapa peri yang datang membawakan pangeran untukmu jika kamu meneduh di suatu tempat sendirian. Hanya benar-benar sendirian. Jika beruntung kalian akan menikah tapi selalu harus yang perempuan yang mengawali percakapan.”
                Lalu aku iseng bertanya bagaimana jika sebelumnya sudah kenal. Katanya peri itu hanya akan mengirim orang asing untuk dinikahi suatu hari nanti.
                Sungguh kekanak-kanakan. Pernah beberapa kali aku meneduh di halte bus dekat kampusku tapi yang meneduh bersamaku adalah bapak-bapak gendut dan aku meminta maaf padanya ketika bajuku yang terlanjur basah terkena air hujan mengenai lengannya yang masih kering. Tidak mungkin suatu hari nanti aku menikah dengannya. Tapi suatu hari Selasa aku berharap yang dikatakan temanku itu benar-benar terjadi. Selasa siang itu benar-benar mendung dn kelas Old English Literature kosong. Aku berlari cepat-cepat saat gerimis mulai turun. Aku meneduh di halte bus. Sendirian. Aku diam-diam berharap apa yang dikatakan temanku, Dewi benar-benar terjadi. Tiba-tiba ada seseorang menggendong sebuah alat music dan meletakannya di bangku paling pinggir. Aku menatapnya dan berusaha jangan sampai ketahuan. Jantungku hampir lompat saat hujan semakin deras dan dia langsung berdiri mengambil alat musiknya lalu meletakkan di sampingku. Dia berdiri dan celingukan lalu mengangkat telefon tetapi aku tidak tahu dia berbicara apa karena suaranya ditelan hujan. Hujan masih sangat deras dan aku tidak berani menyapanya. Aku belum tahu dia orang yang seperti apa dan diam-diam aku mulai mempercayai cerita Dewi tentang pangeran yang datang dari hujan dan akan menikahiku jadi aku tidak mau  sembarangan memulai pembicaraan. Sebuah bus datang dan dia menaiki bus itu. Kami menaiki bus yang berbeda. Sebenarnya aku berharap bisa bertemu lagi dengannya.
***
                Pagi ini kelas dimulai jam sembilan dan aku masih duduk di kafetaria menunggu sarapanku bersama Dewi. Dia mulai bercerita tentang seorang teman SMAnya yang baru saja menikah katanya mereka bertemu pertama kali saat meneduh di depan emperan kios yang sudah tutup di sore hari. Akhirnya sekarang mereka resmi menikah. Aku tetap tidak begitu percaya tapi diam-diam berharap bahwa hal itu bnar-benar akan terjadi padaku. Kami berjalan ke kelas dan mataku berhenti di papan pengumuman yang mengumumkan akan adanya welcoming concert dari anak-anak seni music. Aku melirik Dewi dan dia langsung tahu apa maksudku. Dia mengiyakan dan kami akan menonton acara itu Malam Minggu nanti. Anak-anak seni music tidak pernah terdengar membosankan. Jika tampang mereka tidak terlalu bagus setidaknya mereka memiliki ssuatu untuk dipertunjukkan. Kau akan melupakan bagaimana wajah mereka ketika mereka mulai memetik gitar kalsik atau menekan tuts pianonya.
                Kami pergi ke event ini dengan dress semi formal dan dandan secantik mungkin. Aku berdiri di dekat panggung terbuka. Ada beberapa penampil dan penampil yang –entah-ke-berapa terlihat tidak asing. Dia memainkan gitar dan senyum dengan lembut saat meainkannya. Senyum itu menimbulkan lesung pipi yang tidak dapat tidak membuatku meleleh. Dia menyanyikan sebuah lagu dari John Mayer, dan sebuah lagu dari Jason Mraz ketika gerimis yang sangat tipis mulai turun. Setelah pulang aku masih memikirkan laki-laki pemain gitar tadi sepertinya tidak asing. Beberapa  kali mengingat aku baru sadar bahwa dia adalah pangeran yang dikirimkan peri hujan untuk menemaniku meneduh walaupun akhirnya dia pergi lebih dahulu.
***
Sore ini aku merasa sangat lelah dan hujan terlanjur turun saat aku di tengah jalan menuju halte. Aku berlari secepatnya dan mnyembunyikan kamusku di balik jaket karena tidak muat jika aku taruh di tas. Jantungku berhenti sebentar dan mataku terbelalak saat di halte ada seseorang yang menyanyikan lagu Your Body Is A Wonderland malam Minggu kemarin. Dia menatapku balik dan tersenyum, lesung pipinya membuatku tidak bisa berkata apapun. Aku tersenyum balik dan tepat saat aku duduk bus yang akan dinaikinya datang. Dia mengambil tas berisi alat musiknya yang belakangan aku ketahui isinya adalah sebuah gitar.

Selama perkuliahan beberapa hari ini aku menjadi tidak fokus. Aku berpikir bagaimana cara mengawali percakapan dengan laki-laki yang sama sekali tidak pernah aku kenal. Saat aku sudah tahu bagaimana melakukannya halte menjadi sedikit lebih ramai dari biasanya atau laki-laki berlesung pipi penggendong gitar itu tidak datang ketika hanya ada aku atau datang ketika tidak sedang hujan sampai suatu hari ketika aku sengaja membolos karena aku tahu di hari Selasa dia akan ke halte tepat setelah dzuhur dan kebetulan hujan sudah mulai turun. Dia benar-benar datang dengan jumpernya yang sudah basah kuyup. Kali ini tidak ada alat music yang digendong seperti biasa. Jantungku benar-benar tidak bisa berhenti berdebar. Aku menunggunya selesai menepuk-nepuk kaosnya setelah dia melepas jumper dan duduk. Mulutku baru akan terbuka sebelum ada seorang perempuan cantik menghampirinya dengan payung bening. Mereka meninggalkanku, payung itu terlalu kecil untuk mereka berdua tetapi mereka memang justru tidak memakainya dan menari-saling-berkejaran di bawah hujan. Laki-laki yang sampai saat ini tidak aku ketahui namanya itu menggendong perempuan pembawa payung itu dan semakin lama bayangan mereka tertutup hujan yang sangat deras dan menghilang. Aku menyadari bahwa aku sangat bodoh dan tertawa sendiri di halte sambil sakit hati. Sejak kapan aku percaya dongeng bodoh yang dikarang Dewi? Atau mungkin cerita Dewi memang benar mengenai pangeran itu tetapi karena sudah ada perempuan yang menyapanya terlebih dahulu jadi dia akan menikahi perempuan lain. Aku menoleh melihat tempat dia dulu meletakkan gitarnya. Aku melihat ada sebuah kertas terlipat yang ketika aku buka isinya seperti sebuah lirik lagu tentang ucapan terimakasihnya kepada hujan yang telah mempertemukan dia dengan perempuan cantik yang menyapanya saat hujan setelah acara welcoming concert di teras gedung pertunjukan.

END

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.