Langsung ke konten utama

A Letter From Josh

Ini adalah secuil catatan harian dari seorang figur yang ada di tulisannya @gusticitra. Bukan pemeran utama. Pemeran yang disia-siakan mungkin. Yah namanya juga cerita. Di tulisan Citra mungkin dia cuma tokoh yang ditinggalkan tapi di sini ya tetap tokoh yang ditinggalkan tapi dia punya kehidupan juga untuk diceritakan. Hahaha. Ini adalah surat dari Josh untuk Hanna yang dititipkan kepadaku agar kalian membacanya atau mungkin Hanna juga kesasar di blog ini. Who knows?
http://thumbs.dreamstime.com/z/croissant-coffee-14135757.jpg

Pagi tadi aku mendengar radio dan iseng meng-SMS stasiun itu atas pertanyaan yang mereka lempar dan tentu menyalamkan rinduku lewat udara. Alih-alih salamku kepadamu dibacakan, mereka malah memplesetkan namaku menjadi merk minuman penambah energi atau memplesetkannya dengan jargon dangdut yang kasetnya dijual di depan kios-kios di pasar: buka dikit, Josh. Menggelikan. Sehari tadi aku juga sudah meminum bercangkir-cangkir kopi dan membaca artikel sejarah tentang roti Croissant. Liburan seperti ini membuatku jenuh, apalagi kamu ada di luar sana. Untuk mengisinya aku melakukan hal-hal tidak penting seperti ini yang mengingatkanku padamu. Kamu dulu senang sekali menunjukkan hal-hal filosofis kepadaku. Kamu bilang bahwa meminum kopi adalah menelan kehidupan dalam beberapa kali teguk. Kopi adalah pahit dan manis bukan kopi hitam yang hanya dengan gula sesendok teh seperti yang aku minum, bukan juga semanis Macchiato yang aku beli dari vending machine untukmu dan aku terlalu banyak menekan jumlah gulanya. Katamu dulu kamu ingin pergi ke Paris, menikmati roti Croissant di tempat asalnya dan pergi ke Italia menikmati Cappuccino di tempat Ia dilahirkan. Hey, Hanna kamu salah. Croissant bukan dari Perancis, ia dari Austria dan memiliki sejarah yang tidak aku sangka-sangka, setidaknya itu menurut artikel yang aku baca. Ya jika kamu tetap ngeyel tidak apa-apa. Kita tetap bisa ke Italia, Paris, dan Austria dalam satu rentangan waktu sekaligus. Bukankah mereka berdekatan? Jika aku lihat di peta demikian, Hanna hahaha. Kamu pengampun kan? Kamu selalu menngampuni kebodohanku. Saat aku bertanya seperti anak kecil kenapa bongkahan es batu di es teh yang aku pesan tidak tenggelam padahal ia benda padat lalu kamu menjelaskan panjang lebar tentang massa jenis dan ruang antar molekul bla bla bla. Aku malas mendengar dan hanya memperhatikanmu yang serius dan terlihat sabar menahan amarah. Hannaku yang pintar dan penyabar.
Kamu pernah juga mengatakan bahwa kamu tidak suka cahaya lampu yang tidak begitu terang dan hanya terlihat seperti titik titik atau kunang-kunang yang banyak sekali di kegelapan, seperti pemandangan jalanan kota ini suatu malam saat kita menikmati kopi masing-masing di sebelah jendela kafe favorit kita. Kamu juga berkata bahwa kamu membenci kebisingan. Maka aku tidak pernah mengajakmu ke diskotik. Aku masih terheran-heran hingga sekarang. Kenapa kamu begitu membenci hal-hal semacam itu? Padahal bukannya lebih mengerikan tenggelam dalam kegelapan tanpa cahaya sedikitpun dan tanpa suara apapun? Mungkin lebih baik mendengar suara jangkrik daripada tidak ada suara sedikitpun, Hanna. Lalu kebodohanku sekarang ini muncul lagi. Berlakukah teori analogi kopi yang kamu agung-agungkan itu kepada jangkrik yang bersuara saat sepi? Apakah mereka merasakan manis dan pahitnya kehidupan? Atau hanya merasakan pahit kopi hitam yang aku pesan? Atau justru Macchiato-mu yang kebanyakan gula? Selama ini aku berpikir bahwa jangkrik hanya memainkan perannya, malantunkan suara saat pohon kesepian. Tapi yang kamu bilang analogi itu berlaku untuk kehidupan lalu bukankah jangkrik bersuara pertanda mereka memiliki kehidupan? Hanna aku menelponmu untuk menanyakan hal itu. Mengapa tidak kamu angkat? Atau kamu sedang mengutuki jangkrik-jangkrik itu karena mereka satu-satunya yang menganggu tidur nyenyakmu di desa kakek nenek yang kamu harapkan tidak ada suara bising satu hertz pun?
Hanna aku sangat merindukanmu dan aku harap besok pagi ketika aku bangun aku mendapatkan jawabannya. Paling tidak kamu akan menelponku balik dan berkata ‘maaf, semalam aku tidur, nyenyak sekali karena di sini tidak ada suara sedikitpun’ atau justru ‘maaf aku semalam ketiduran karena suara jangkrik yang merdu mengantarkanku ke alam mimpi yang begittu indah. Suaranya menghantarkanku semakin lama semakin hilang dan aku masuk ke dimensi lain, alam bawah sadar dan ada kamu di sana’. Aku juga berharap di masa depan kita bisa mencampur kopi hitamku dan macchiato-mu agar hidup kita seimbang, melebur, bahagia dalam keselarasan. Melihat senyummu sesabit Croissant setiap pagi di bangun tidurku.



Komentar

  1. Halo Mbak Eka. Apa kabar? hehe
    Kasih kritik dan saran dong Mbak.
    Follow juga Mbak blog ini haha.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.