Karena pagi ini saya
bersama Citra mau siaran dan kecelik karena mati lampu dan didera rasa bosan
serta gabut maka sebagai mahasiswa sastra dan atas nama passion kami memutuskan
membuat proyek kecil-kecilan sebagai pemanasan untuk proyek yang lebih besar
nantinya. Kami masing-masing menuliskan sepuluh kata yang harus disusun oleh yang lainnya menjadi
sebuah cerita. Citra memberi sepuluh kata seperti ini: kutu, bemo, sobek, lampu, jembatan, menerjang, bosan,
luka, kematian, dan kata terakhir adalah santet. Entah apa dasarnya
dia memilih kata-kata tersebut tapi aku langsung memikirkan suatu kejadian dan
mengungkapkannya ke dalam cerita ini:
Gadis di Trotoar
Aku melihatnya dari
atas bemo yang aku tumpangi. Aku tidak sabar dan
memilih turun. Kendaraan seperti ini tidak bisa aku tumpangi. Aku bisa mati
dehidrasi di dalamnya. Ban bocor tadi pagi lumayan menghancurkan mood-ku yang
dari semalam sudah berantakan. Aku menerjang
udara kota yang semakin hari semakin panas. Pohon-pohon di tepian trotoar tidak
bisa menghilangkan engapnya ibu kota. Aku tetap berjalan sambil mengamati
perempuan yang wajahnya tidak asing itu. Dia duduk di dekat lampu merah. Rambutnya gimbal entah ada berapa banyak kutu yang melangsungkan kehidupan di sana. Bajunya
berwarna kumal dan sobek di sana sini. Wajahnya
terlihat kosong dan bosan tetapi ada sekilas
kecantikan yang tertinggal di wajah kusam itu. Aku merasa pernah melihatnya.
Aku semakin tidak tahan dengan teriknya siang ini jadi kuputuskan berhenti di
stand jus di belokan jalan kedua setelah perempatan. Aku meminum jus strawberry
dengan susu yang menjadi favorit mantan kekasihku, Violet.
Wajah pucat perempuan
berambut gimbal tadi masih membayangiku. Aku mencoba mengingat beberapa saat. Sebelumnya
aku pernah melihat dia, dimana? Bajunya berwarna kumal sepertinya juga aku
kenal. Dulu baju itu berwarna biru. Ah! Aku ingat! Benarkah ia perempuan yang
terakhir kali aku temui di jembatan itu? Tujuh tahun
yang lalu? Aku dengar dia sudah melompat dari jembatan itu tapi dia tidak mati,
hanya mengalami luka. Aku tahu betul bagaimana
rasanya terluka. Hati yang terluka pasti lebih sakit dari luka terkena batuan di jurang
itu. Aku juga mendengar dia menyantet
dan melakukan hal-hal bodoh lainnya untuk memisahkan laki-laki idamannya dengan
kekasihnya saat itu tapi saat kekasih laki-laki idamannya mati, pesis seperti
adegan Romeo Juliet laki-laki itu ikut bunuh diri dengan meminum cairan yang
biasanya digunakan untuk mengepel lantai mushola di dekat rumahnya.
Berkali-kali pula Ia
mencoba membunuh dirinya sendiri tapi kematian
begitu jauh. Malaikat tidak ingin dia mati dan sengsara di neraka. Violet,
kenapa kamu seperti ini? Kamu meninggalkanku untuk laki-laki itu dan laki-laki
itu memilih mati bersama kekasihnya. Kamu terus memintaku untuk melupakanmu
waktu itu dan tidak ada satupun permintaanmu yang tidak ku kabulkan karena aku
pernah berjanji padamu. Violet, kamu tahu apa yang ingin aku lakukan sekarang?
Aku ingin menggandengmu, mengajakmu minum jus seperti delapan tahun lalu saat
kita masih bersama. Tapi Violet apa yang aku lakukan sekarang? Aku memang
menggandengmu, tapi bukan untuk minum jus, aku menggandengmu untuk berlari dan
membiarkan beberapa kendaraan menabrak raga kita. Aku tidak peduli jika harus
ke neraka. Neraka bagiku melihatmu disia-siakan seperti ini, Violet. Aku
sedikit lega menyaksikan orang-orang mengerubungi jasad kita, darah kita yang
bersatu dengan asap kendaraan umum di jalanan ibu kota. Setidaknya aku bisa
mengakhirinya bersamamu. Sekarang aku sudah besiap, Violet jika memang kita
harus ke neraka.
wakwaw, hahaha bangga saya disebut :D
BalasHapusJangan berbangga dulu, Kisanak. Namamu belum aku sebut di halaman kata pengantar bukuku. :')
BalasHapus