Langsung ke konten utama

Melihat Drama Kolosal

Pagi yang pucat dimana jalanan jalanan berkelok seperti labirin yang kita tidak ketahui jalan keluarnya
dengan wajah yang pias orang-orang berduyn melewati jalanan di pagi tadi
Menyusuri setiap detail dan berharap dapat sampai ke bioskop tua melihat drama kolosal

Dengan semua bekal tanda baca dan menghitung, jebakan-jebakan di simpangan yang rupanya hampir sama dan kadang-kadang terhenti pada terjalnya
Banyak yang terhenti menyerah dan putus asa
Banyak yang tidak sengaja kembali lagi pada jalan yang telah dilewati
Tak jarang yang beruntung dan lihai menafsirkan kode hingga sang pertunjukan kolosal telah didepan penglihatan
Ada yang lelah kemudian mati dan bangkainya membusuk lebih pucat lagi

Pada kehadiran generasi baru yang lebih memekakan semesta
Mereka yang lebih canggih
Mempelajari navigasi, arah angin, sesekali memotong memperpendek lintasan

Pada kaum yang telah bersusah
Sesekali dijejali keraguan hingga awan mendung menyerbu bersama
Kekalutan akan duka yang turut memeriahkan kekacauan

Mereka masih berduyun-duyun dengan ketidakpastian
Yang ternyata bioskop tua telahh roboh dalam heningnya kekacauan
dan pertunjukan kolosal telah menjadi sejarah semata

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.