Aku meminum kopiku dan
menumpahkannya ke dalam tulisan ini.
Aku
tidak tahu apa yang terjadi padaku belakangan ini. Perasaan kikuk itu masih
ada, dimana kata A.S Laksana dalam sebuah cerpennya yang bercerita tentang
seorang pawang hujan yang jatuh cinta dengan gadis kumal kurang lebih seperti ini “Saat kau merasa
kikuk tanpa sebab pada pertemuan pertama, itulah barangkali yang disebut jatuh
cinta pada pandangan pertama.” Aku masih kikuk, dari pertama melihatmu, hingga
sekarang meskipun kita jarang lagi bertemu. Aku tidak begitu bahagia saat
bertemu denganmu, tidak seperti ketika kita bertemu pertama kali. Aku ingat
sekali setelah bertemu denganmu aku tertawa sendiri dan sangat berterimakasih
dengan sahabatku dan takdir yang kupikir sudah direncanakan Tuhan agar hanya
kita saja yang bertemu entah apa maksudnya, entah mengapa harus begitu. Aku
ingat sekali waktu itu kamu mengantarkanku ke sebuah pintu yang menurutku itu
bukan sebuah jalan menuju ke suatu tempat, tapi itu pintu menuju sebuah
kesudahan. Cukup malam itu saja aku merasa sangat bahagia sesudah itu, iya
sebuah kesudahan. Aku sadar diri, kamu terlalu sempurna untuk aku yang hanya
melihatmu dan mendengar suaramu dari jauh saja sudah cukup.
Beberapa
bulan setelah kali pertama kita bertemu aku merasa mulai merindukanmu dan
seperti yang aku katakan sebelumnya, rindu kepada seseorang yang akan susah
ditemui dan tidak bisa berbuat apa-apa itu sangat menyesakkan. Aku pun tidak
tahu apa yang aku rindukan dari orang yang baru pertama kali aku jumpai. Mungkin
caranya memberi perhatian penuh saat aku bertanya sesuatu seolah itu hal yang
sangat penting atau mungkin caranya tertawa yang tak luput sedetikpun dari
pandangan dan pendengaranku. Di pertemuan selanjutnya aku berharap kita bisa mengobrol sebentar
saja atau sekedar saling menyapa tapi kamu melihatku saja tidak. Aku tetap
tidak bisa membuatmu melihatku walau bagaimanapun telah aku berusaha. Ku pikir
kamu telah lupa denganku yang sebelumnya
hanya bertemu karena kebetulan, ya entah itu takdir atau kebetulan, menurutku
keberuntungan, setelah akhirnya aku yang memberanikan diri dan berharap pikiran
burukku tentang kamu yang lupa itu lenyap kita berbicara sebentar dan aku tidak
melihat kamu tersenyum sedikit saja, kenapa? Kamu memasang muka yang aku tidak
ketahui itu ekspresi apa. Mungkin mengingatku. Aku hampir lupa basa basi apa
yang aku tanyakan kepadamu saat kebetulan yang aku rencanakan itu terjadi, ya
aku sengaja merencanakannya. Aku terlalu sibuk mengatur senyum sambil
menyembunyikan keringat dingin di tanganku saat ingin bersalaman denganmu. Kamu
tahu kebiasaanku saat bertemu dengan seseorang yang aku harap bisa aku ajak
berbicara lama-lama tetapi pada kenyataannya aku hanya mampu menahannya
sebentar karena aku terlalu membosankan? Setelah itu pasti aku mengingat-ingat
apa saja yang sudah kita bicarakan dan berharap dapat mengubahnya. Mengubah
skenario yang telah lewat. Mengarang semuanya dari awal dan berharap dapat
mengulangnya dengan adegan yang lebih baik, lebih lama dan lebih menyenangkan.
Seorang sahabatku ternyata juga melakukannya entah karena zodiac kami sama atau
karena hal lain tapi hal ini menyenangkan setidaknya menenangkan dan
mengenangkan. Aku ingat sekali aku tidak sempat mengucap kata perpisahan
kepadamu, paling tidak kata “sampai jumpa lagi”. Aku tidak menyesalinya karena
itu akan menjadi bagian terberat dan akan mempertaruhkan sikap serta kupikir
jantungku akan melompat saat di bagian itu lah aku akan melihatmu tersenyum.
Minggu-minggu berikutnya aku berharap kita akan lebih sering bertemu walau
hanya sebentar walau aku harus merencanakannya dahulu dan pura-pura tidak
mengetahuinya. Bertemu denganmu dengan cara seperti itu tidak membuatku begitu
bahagia bahkan aku merasa kasihan terhadap diriku sendiri. Kamu begitu tidak
peduli dan begitu ingin cepat-cepat menjabat tanganku untuk mengucap kata
selamat tinggal.
Akhir-akhir
ini sepertinya aku mulai sadar, aku hanya terlalu ingin kamu menjadi milikku
tanpa tahu perasaan apa yang timbul pertama kali dan semakin lama menjadi
berbeda, seperti sebuah ambisi. Aku berterimakasih kepada Tuhan yang
mempertemukan kita. Aku juga berterima kasih dengan sahabat-sahabat yang ku
pikir dulu bosan karena aku terlalu sering bercerita tentangmu. Aku juga
berterimakasih karena kamu membuatku melakukan hal-hal bodoh di luar kendaliku.
Kamu pernah datang dan pernah aku harapkan untuk datang lagi setiap hari tapi
sekarang aku merasa menunggu tidak pernah semembosankan ini. Jadi, kupikir ini
pertama kalinya aku merasa bahagia dan tidak perlu menyembunyikan keringat
dingin di tanganku saat akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Selamat
tinggal! Terimakasih memberi aku waktu untuk memantaskan diri terlebih dahulu.
Semoga suatu saat kita dipertemukan kembali dengan keadaan yang berbeda dan
jika aku memang sudah pantas dan ditakdirkan untukmu pasti kita akan bertemu
lagi. Mungkin tanpa sengaja seperti saat pertama kali dulu. J
arum... ini dalem :')
BalasHapusRezaaaaa kamu baca? makasih Rezaa :"
BalasHapus