Langsung ke konten utama

Selamat Tinggal, Kamu! :)

Aku meminum kopiku dan menumpahkannya ke dalam tulisan ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku belakangan ini. Perasaan kikuk itu masih ada, dimana kata A.S Laksana dalam sebuah cerpennya yang bercerita tentang seorang pawang hujan yang jatuh cinta dengan gadis kumal  kurang lebih seperti ini “Saat kau merasa kikuk tanpa sebab pada pertemuan pertama, itulah barangkali yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama.” Aku masih kikuk, dari pertama melihatmu, hingga sekarang meskipun kita jarang lagi bertemu. Aku tidak begitu bahagia saat bertemu denganmu, tidak seperti ketika kita bertemu pertama kali. Aku ingat sekali setelah bertemu denganmu aku tertawa sendiri dan sangat berterimakasih dengan sahabatku dan takdir yang kupikir sudah direncanakan Tuhan agar hanya kita saja yang bertemu entah apa maksudnya, entah mengapa harus begitu. Aku ingat sekali waktu itu kamu mengantarkanku ke sebuah pintu yang menurutku itu bukan sebuah jalan menuju ke suatu tempat, tapi itu pintu menuju sebuah kesudahan. Cukup malam itu saja aku merasa sangat bahagia sesudah itu, iya sebuah kesudahan. Aku sadar diri, kamu terlalu sempurna untuk aku yang hanya melihatmu dan mendengar suaramu dari jauh saja sudah cukup.
Beberapa bulan setelah kali pertama kita bertemu aku merasa mulai merindukanmu dan seperti yang aku katakan sebelumnya, rindu kepada seseorang yang akan susah ditemui dan tidak bisa berbuat apa-apa itu sangat menyesakkan. Aku pun tidak tahu apa yang aku rindukan dari orang yang baru pertama kali aku jumpai. Mungkin caranya memberi perhatian penuh saat aku bertanya sesuatu seolah itu hal yang sangat penting atau mungkin caranya tertawa yang tak luput sedetikpun dari pandangan dan pendengaranku. Di pertemuan selanjutnya aku berharap kita bisa mengobrol sebentar saja atau sekedar saling menyapa tapi kamu melihatku saja tidak. Aku tetap tidak bisa membuatmu melihatku walau bagaimanapun telah aku berusaha. Ku pikir kamu telah  lupa denganku yang sebelumnya hanya bertemu karena kebetulan, ya entah itu takdir atau kebetulan, menurutku keberuntungan, setelah akhirnya aku yang memberanikan diri dan berharap pikiran burukku tentang kamu yang lupa itu lenyap kita berbicara sebentar dan aku tidak melihat kamu tersenyum sedikit saja, kenapa? Kamu memasang muka yang aku tidak ketahui itu ekspresi apa. Mungkin mengingatku. Aku hampir lupa basa basi apa yang aku tanyakan kepadamu saat kebetulan yang aku rencanakan itu terjadi, ya aku sengaja merencanakannya. Aku terlalu sibuk mengatur senyum sambil menyembunyikan keringat dingin di tanganku saat ingin bersalaman denganmu. Kamu tahu kebiasaanku saat bertemu dengan seseorang yang aku harap bisa aku ajak berbicara lama-lama tetapi pada kenyataannya aku hanya mampu menahannya sebentar karena aku terlalu membosankan? Setelah itu pasti aku mengingat-ingat apa saja yang sudah kita bicarakan dan berharap dapat mengubahnya. Mengubah skenario yang telah lewat. Mengarang semuanya dari awal dan berharap dapat mengulangnya dengan adegan yang lebih baik, lebih lama dan lebih menyenangkan. Seorang sahabatku ternyata juga melakukannya entah karena zodiac kami sama atau karena hal lain tapi hal ini menyenangkan setidaknya menenangkan dan mengenangkan. Aku ingat sekali aku tidak sempat mengucap kata perpisahan kepadamu, paling tidak kata “sampai jumpa lagi”. Aku tidak menyesalinya karena itu akan menjadi bagian terberat dan akan mempertaruhkan sikap serta kupikir jantungku akan melompat saat di bagian itu lah aku akan melihatmu tersenyum. Minggu-minggu berikutnya aku berharap kita akan lebih sering bertemu walau hanya sebentar walau aku harus merencanakannya dahulu dan pura-pura tidak mengetahuinya. Bertemu denganmu dengan cara seperti itu tidak membuatku begitu bahagia bahkan aku merasa kasihan terhadap diriku sendiri. Kamu begitu tidak peduli dan begitu ingin cepat-cepat menjabat tanganku untuk mengucap kata selamat tinggal.


Akhir-akhir ini sepertinya aku mulai sadar, aku hanya terlalu ingin kamu menjadi milikku tanpa tahu perasaan apa yang timbul pertama kali dan semakin lama menjadi berbeda, seperti sebuah ambisi. Aku berterimakasih kepada Tuhan yang mempertemukan kita. Aku juga berterima kasih dengan sahabat-sahabat yang ku pikir dulu bosan karena aku terlalu sering bercerita tentangmu. Aku juga berterimakasih karena kamu membuatku melakukan hal-hal bodoh di luar kendaliku. Kamu pernah datang dan pernah aku harapkan untuk datang lagi setiap hari tapi sekarang aku merasa menunggu tidak pernah semembosankan ini. Jadi, kupikir ini pertama kalinya aku merasa bahagia dan tidak perlu menyembunyikan keringat dingin di tanganku saat akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Selamat tinggal! Terimakasih memberi aku waktu untuk memantaskan diri terlebih dahulu. Semoga suatu saat kita dipertemukan kembali dengan keadaan yang berbeda dan jika aku memang sudah pantas dan ditakdirkan untukmu pasti kita akan bertemu lagi. Mungkin tanpa sengaja seperti saat pertama kali dulu. J

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.