Langsung ke konten utama

3 Puisi untuk Hari Puisi Sedunia

Saya tidak tahu apa anggapan orang terhadap seseorang yang menyukai puisi. Saya mulai menulis puisi entah sejak kapan dan saya masih menyimpan kumpulan buku puisi yang saya tulis sendiri dari jaman SMP. Dalam rangka Hari Puisi Sedunia yang sebenarnya sudah lewat beberapa menit lalu, saya ingin menyalinnya di sini. Puisi yang saya tulis ketika SMP, SMA, dan yang baru saya tulis kemarin setelah bercerita dengan seorang teman.

1. Puisi pertama ini saya tulis kemarin malam setelah keseringan saling bercerita

Mari Bercerita

Mari bercerita
Tentang mimpi-mimpimu dan Jakarta
Tentang laki-laki yang saya tidak punya ide harus seperti apa
Tentang lampu-lampu di jalanan, di panggung hiburan, atau di pantat kunang-kunang
Hal yang dari dulu kamu suka

Berceritalah
Perihal kekhawatiran akan segala hal yang bahkan  bukan bagianmu,
Macetnya jalanan,
Atasan yang menyebalkan atau anak magang yang berani-beraninya menggodaimu
Saya akan tetap memasang telinga, dan kadang mengangguk
Walaupun kamu sudah menceritakannya berkali-kali, dan kamu tetap berbicara tanpa peduli
Lalu, saya—karena ceritamu sudah saya hapal di luar kepala—akan sibuk menangkap sorot mata yang nantinya akan menenangkan Jakarta yang tampak selalu tergesa-gesa

2. Puisi ini saya buat Agustus 2012 ketika kakak tingkat banyak yang merantau entah ke Batam, Jakarta atau Malaysia, bahkan sebelum saya sendiri merantau. Lalu saya mencoba merasakan apa yang mereka rasakan. Lihatlah diksinya saya lupa dapat darimana tapi percayalah itu ada artinya

Elegi di Perantauan

Emak, bukan duka ingin ku kabarkan
Tapi sungguh dinda tiada kerasan
Aku wanodya, di perantauan mencari sahmura
Akan ku persembahkan untukmu, Mak

Aku takut, tapi aku harus
Aku rindu, kaku dan lemah
Aku rindu kampung halamanku
Terutama engkau, Mak

Ramai di sini tampak lengang di otakku
Sesak sekali meski tak sesal
Rindu itu kembali datang
Terjebak di sarang kegalauan

Tapi ini tentang masa depan
Ku paksa walau tetap tiada kerasan

3. Yang terakhir adalah puisi yang saya buat ketika SMP dan SMP kebanggaan saya menjadi salah satu sekolah adhiwiyata yang mengajarkan saya untuk jangan sampai membuang sampah sembarangan dan culture itu kebawa sampai sekarang

Untuk Adhiwiyata
Jangan rusak pagi kami, Tuan
Dengan bangunan yang menjalar
Dengan suara bising yang bersahutan
Dengan tangan bengis tak terkalahkan

Pohon galing-galing yang kau buat galiung
Kini habis, Tuan, termakan kerakusanmu
Detap air hujan, kini beda suaranya
Karena membaur dengan berisik kendaraan

Jangan ganggu hari kami, Tuan
Kini senja menjadi kelabu
Awan abu-abu desak mendesak
Menderak menderum di jalanan

Belantara hijau kami
Kini habis hijaunya, rata daratannya
Kering, kuning, terabaikan

Berisik kicau burung
Terganti riuh rendah suara mesin
Udara yang dulu dingin menusuk
Terganti pengap dari cerobong

Ini alam kita, Tuan
Yang akan rusak jika dibiarkan
Jangan rusak pagi kami, Tuan
Yang mataharinya bersinar berhaluan

 Tidak sebagus puisi Aan Mansyur apalagi Chairil Anwar, tapi melalui puisi, kita bisa menyampaikan sesuatu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.