Saya tidak tahu apa anggapan orang terhadap seseorang yang menyukai puisi. Saya mulai menulis puisi entah sejak kapan dan saya masih menyimpan kumpulan buku puisi yang saya tulis sendiri dari jaman SMP. Dalam rangka Hari Puisi Sedunia yang sebenarnya sudah lewat beberapa menit lalu, saya ingin menyalinnya di sini. Puisi yang saya tulis ketika SMP, SMA, dan yang baru saya tulis kemarin setelah bercerita dengan seorang teman.
2. Puisi ini saya buat Agustus 2012 ketika kakak tingkat banyak yang merantau entah ke Batam, Jakarta atau Malaysia, bahkan sebelum saya sendiri merantau. Lalu saya mencoba merasakan apa yang mereka rasakan. Lihatlah diksinya saya lupa dapat darimana tapi percayalah itu ada artinya
Tidak sebagus puisi Aan Mansyur apalagi Chairil Anwar, tapi melalui puisi, kita bisa menyampaikan sesuatu
1. Puisi pertama ini saya tulis kemarin malam setelah keseringan saling bercerita
Mari Bercerita
Mari bercerita
Tentang mimpi-mimpimu dan Jakarta
Tentang laki-laki yang saya tidak punya ide harus seperti
apa
Tentang lampu-lampu di jalanan, di panggung hiburan, atau di
pantat kunang-kunang
Hal yang dari dulu kamu suka
Berceritalah
Perihal kekhawatiran akan segala hal yang bahkan bukan bagianmu,
Macetnya jalanan,
Atasan yang menyebalkan atau anak magang yang
berani-beraninya menggodaimu
Saya akan tetap memasang telinga, dan kadang mengangguk
Walaupun kamu sudah menceritakannya berkali-kali, dan kamu
tetap berbicara tanpa peduli
Lalu, saya—karena ceritamu sudah saya hapal di luar
kepala—akan sibuk menangkap sorot mata yang nantinya akan menenangkan Jakarta
yang tampak selalu tergesa-gesa
Elegi di Perantauan
Emak, bukan duka ingin ku kabarkan
Tapi sungguh dinda tiada kerasan
Aku wanodya, di perantauan mencari sahmura
Akan ku persembahkan untukmu, Mak
Aku takut, tapi aku harus
Aku rindu, kaku dan lemah
Aku rindu kampung halamanku
Terutama engkau, Mak
Ramai di sini tampak lengang di otakku
Sesak sekali meski tak sesal
Rindu itu kembali datang
Terjebak di sarang kegalauan
Tapi ini tentang masa depan
Ku paksa walau tetap tiada kerasan
3. Yang terakhir adalah puisi yang saya buat ketika SMP dan SMP kebanggaan saya menjadi salah satu sekolah adhiwiyata yang mengajarkan saya untuk jangan sampai membuang sampah sembarangan dan culture itu kebawa sampai sekarang
Untuk Adhiwiyata
Jangan rusak pagi kami, Tuan
Dengan bangunan yang menjalar
Dengan suara bising yang bersahutan
Dengan tangan bengis tak terkalahkan
Pohon galing-galing yang kau buat galiung
Kini habis, Tuan, termakan kerakusanmu
Detap air hujan, kini beda suaranya
Karena membaur dengan berisik kendaraan
Jangan ganggu hari kami, Tuan
Kini senja menjadi kelabu
Awan abu-abu desak mendesak
Menderak menderum di jalanan
Belantara hijau kami
Kini habis hijaunya, rata daratannya
Kering, kuning, terabaikan
Berisik kicau burung
Terganti riuh rendah suara mesin
Udara yang dulu dingin menusuk
Terganti pengap dari cerobong
Ini alam kita, Tuan
Yang akan rusak jika dibiarkan
Jangan rusak pagi kami, Tuan
Yang mataharinya bersinar berhaluan
Komentar
Posting Komentar