Langsung ke konten utama

Do I Live in My Dream?

Almost. Ya at least, ini penjajakan dulu lah ya. Saya menulis ini ditemani Daydreaming dari Radiohead di Spotify.  Dulu ibu saya berkata “Arum itu dulu cita-citanya sederhana. Mudik.” Sounds weird tapi sampai umur segini—meskipun dikatakan dengan frasa yang berbeda—cita-cita saya tetap sama.  Dulu saya ingin ke Jogja karena ingin menjadi penulis tapi ternyata menulis sulit sehingga saya memperbanyak membaca dulu biar tulisannya nggak terlalu teenlit. Because your writing is what you read. Apalagi menjadi anak sastra. Setelah membaca karya-karya Pramoedya, Eka Kurniawan, Aan Mansyur, Paulo Coelho, Murakami, Scott Fizgerald, Charles Dickens, Cecelia Ahern, dll, saya jadi merasa harus perbanyak membaca, terutama buku-buku non-fiksi.

Kembali ke  pernyataan pembuka tulisan ini. Saya hampir hidup di mimpi saya atau mungkin udah (?) meskipun baru percobaan. Pergi ke kantor memakai outfit lucu tanpa seragam dan harus formal, mendengarkan radio di meja kerja—yang playlist-nya racun banget buat sing along tapi nggak ngerti siapa yang nyanyi dan apa judulnya saking cepetnya lagu-lagu baru bermunculan—seperti  salah satu scene di film Rectoverso, dan memiliki rekan-rekan kerja yang setiap hari semakin membuat saya ingin berkembang. Sesuatu yang menyenangkan belum lama saya di sana, ketika saya duduk di sebelah mbak-mbak yang menurut hipotesis saya adalah penulis kategori “style” memakai headset dan menyanyikan dengan pelan-pelan “…someday you will find me…caught beneath the landscape, in the champagne supernova…”, di kesempatan yang lain alunan sebuah lagu dari band pengisi Lalala Fest tahun 2016 datang dari ruang sebelah “Love Will Set You Free”, dan di lain hari di meja yang berbeda, mbak-mbak menyetel lagu yang dulu saya dengarkan di UKM dan teman saya menanyai “Kamu dengerin lagu kayak gini, Rum?” tapi jadi booming di angkatan bawah. Akhirnya saya membuka Spotify dan Deep dari Binocular mengalir membuat tempat itu berasa makin nggak asing dilanjut Bohemian Rhapsody-nya Queen yang di-cover Panic! At The Disco dan lagu lain dan lagu lain. Hal menyenangkan lainnya menjadi bagian dari perusahaan start up adalah orang-orangnya yang open-minded dan menyenangkan. Yang pasti mereka pinter dan kreatif. Masa ada yang becanda “Itu dia capek apa yak kok nasinya, nasi duduk?” Ya Allah gini aja saya ketawa. L

Pertanyaan lain yang akan membuat umur duapuluhan bingung barangkali “Kerja sesuai passion tapi penghasilan mepet atau kerja nggak perlu idealis tapi duitnya banyak?” Hmmm sulit yaa. Tapi mengerjakan sesuatu yang sesuai passion itu enak banget asli. Jadi, di awal saya bilang kalau saya suka baca dan di kantor ini kerjaan saya adalah baca. Kebayang nggak sih kalau ada orang yang nggak suka baca dan harus berjam-jam berkutat dengan artikel-artikel ber-page-page? Dan salah satu passion saya yang juga bisa disalurkan adalah “nyari kesalahan orang lain”—yang ini becanda. Sebenarnya dari dulu memang keinginan saya kerja di media. It always sounds fun. Sempat kepikiran juga buat jadi “editor” dan teman saya juga bilang “style kayak kamu cocoknya jadi editor” diam-diam saya amini. Dulu juga sempat berdebat dengan ayah saya “Aku pengen jadi wartawan.” “Kalau ditempatin di tempat perang gimana?”. Terus saya melihat band-band luar ke Indonesia dan saya ingin jadi promotor tapi karena waktu itu terasa jauh—sekarang juga sih, agak deket, dikit—maka saya urungkan. Kemudian saya ingin menjadi news anchor tapi I’m not that good looking. Still, saya daftar di jurusan komunikasi UNS yang passing grade-nya tertinggi sejurusan IPS. Moreover, waktu itu UNY belum ada jurusannya dan saya pengen kuliah di Jogja. Akhirnya, karena pernah merasakan salah jurusan nggak enak, saya memilih yang masih sesuai dengan hal yang saya suka. Sastra Inggris. Dan ikut UKM broadcasting. Saya banyak mendapat pelajaran di UKM itu bahkan mungkin lebih banyak dari yang saya dapatkan di kelas. Sebelumnya, jiwa ingin jadi wartawan saya masih ada. Saya mendaftar UKM dan UKMF jurnalistik, dan UKM sastra tapi semua tidak jadi saya ikuti. Akhirnya di UKMB ini saya tetap aja di bagian news and reportage. Indah, kan? Kadang-kadang kita sudah mendapat apa yang kita inginkan tapi ketika menjalaninya kita nggak sadar. Mungkin bagi sebagian orang sepele, Cuma masuk UKM tapi I used to dream to become a part of it. Mungkin dulu kamu pernah bercita-cita menjadi pilot atau ingin masuk polisi tapi sekarang terjebak dengan rumus-rumus di FMIPA atau kamu ingin menjadi chef tapi harus berkutat dengan pasal-pasal KUHP. Jadi, saya? Cukup beruntung, kan? Itulah hal yang saya syukuri. By the way, dulu ketika SMP saya juga ikut jambore, PMR, dan ekstrakulikuler conversation yang mana saya berhasil menemukan tempat yang nyaman. Di SMK, saya kembali ikut pramuka, dan PKS (dulu ada mantan saya) dan Debating, because well, I like arguing. Cuma ya itu, kadang pas setuju sama motion-nya dipaksa buat nggak setuju.


Tadi saya bertemu seorang kakak tingkat. Dia bilang “Ngikutin idealisme atau kamu harus pandai menyesuaikan. Dulu aku di elektronika tapi ternyata setelah aku masuk bahasa, aku bisa, bahkan dapet lebih.” Sulit. Mengerjakan sesuatu yang baru pun, menurut saya merupakan salah satu upaya keluar dari zona nyaman. Mumpung masih muda, cobain semua. Saya suka dan menyetujui kalimat Paulo Coelho “If you’re in doubt, do it. You can always regret it later.” Saya adalah orang yang sangat tidak PD-an. Contoh sederhananya adalah ketika berbicara di depan umum. Waktu awal-awal kuliah saya wondering “Wah keren-keren juga teman-teman saya PD ngomong gitu.” Tapi akhirnya salah satu resolusi saya adalah mengemsi tahun ini minimal xx kali. Even I get money from that. Kedua adalah naik motor di jalan raya di Jogja. Sepele ya. Tapi, itu yang menyadarkan saya bahwa kata-kata Chris Martin “If you never try you never know” itu bener. Akhirnya, sekarang saya sedikit lebih PD. At least, I try.

Pembicaraan anak umur duapuluhan berikutnya adalah seputar jodoh hahaha. Seorang teman bertanya “Nyunting artikel mulu nih, dipersuntingnya kapan?” Man, come on! I’m 21! Saya masih ingin melakukan banyak hal dan menikah adalah perkara yang masih agak jauh. Saya bertemu sekitar empat laki-laki yang mendadak curhat. Yang pertama adalah seorang sahabat saya, dia bilang “Pengen sih Rum pacaran tapi nggak mau direpotinnya. Gue pengen nyari yang bikin gue rela ngelakuin apa aja kayak ke pacar pertama gue dulu. Belum nemu.” Yang ke-dua adalah teman lama yang saya temui lagi beberapa waktu lalu “Aku maunya HTS an aja Rum. Kalo pacaran males putusnya belum lagi kalo habis itu nyesel.” Lah belum apa-apa udah ngomongin males putusnya, tapi sekarang alasan itu jadi realistis. Yang ketiga mantan saya yang menurut saya paling ganteng tapi paling nggak bisa dibanggain dan dulunya temen terus sekarang jadi kakak-adek dan saya tau dia masih suka bikin caption buat saya :))), agak geli sih. Dia bilang “Aku lagi nggak pengen pacaran. Mau nyari duit dulu terus kalo udah waktunya nge-cim satu yang cocok dan diseriusin. Kalau dia mau yaudah nikah. Sekarang mah deket sama siapa aja.” Gila sih denger dia yang dulu main-main terus ngomong gitu. He grows. Dan yang terakhir adalah kakak tingkat yang saya temui baru saja. “Aku nggak mau pacaran dulu, Rum. Aku pengennya pacaran kalo udah mapan. Pengennya kalau pacaran ya aku yang bayarin.” Alasan-alasan itu mendadak jadi masuk akal. Saya juga tidak begitu ngebet buat pacaran dan lebih realistis. Bahkan alesan takut putus pun jadi masuk akal. Apalagi kalau pacaran, dianya di Jogja dan pas habis wisuda saya ingin pindah harus drama LDR. Males. Sekarang orientasi pacaran udah beda. Agak salah sih kalau kamu manjain pacar kamu pas awal pacaran dan maklumin semua kesalahan dia mentang-mentang masih baru. Kasian pas kamu nggak ada buat dia dan dia udah ketergantungan. Apalagi kalau dia nggak tough. Sekarang bukan cuma yang bisa diandalkan, tapi juga yang bisa mengubah jadi lebih baik, ngasih tau mana hal yang harusnya dilakuin dan yang salah. Saya belum pernah pacaran dengan yang lebih tua. Meskipun kakak kelas, saya tetap lebih tua dua minggu dari dia. Dan entah kenapa, dedek-dedek gemez maba mudah dekat dengan saya.-_- However, saya pengen punya pacar yang dewasa dan udah nggak mau main-main dan menuntun saya ke arah yang lebih baik—sepertinya saya terlalu ignorant terhadap sesuatu dan gini-gini aja. Makanya kalau nggak yakin-yakin banget, mending kita HTS an aja ya daripada putus ntar musuhan hahaha. And anyway I believe in “apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai” kalo kata Radiohead “This is what you get, when you mess with us.” Udah umur segini masih harus nanggung karma kan nggak mau. Daripada menghabiskan waktu buat drama nggak jelas, mending waktunya dipakai buat memantaskan diri. Klise? Sounds like self defense mechanism? Yatapi emang gitu, Cuy. Saatnya berusaha menjadi cewek mandiri dan ngasih makan otak biar seksi. Salah satunya adalah mengobrol dengan teman.

Hal yang patut disyukuri adalah ketika ketemu sama teman-teman yang selalu membagi tawa dan dengan pemikiran random ngomong seakan-akan hal itu beneran bakal kejadian seperti “Ayo ke Thailand.” atau “Pengen nyobain trampolin” atau “Kerja apa ya yang dapet duitnya cepet dan banyak?” dan berubah ke topik “Menurut aku musik-musik kayak gini tuh munculnya cepet banget soalnya nyebarnya juga gampang kan kayak lewat spotify atau itunes atau youtube.” dan tiba-tiba “Katanya sih kalau miara tuyul gitu…” bangkay! Ngapain ngomongin tuyul sik? :))) and they say they’ll leave Jogja. Sedih, but life must go on. Teman menyenangkan lainnya adalah mereka yang “Rum, lu nonton ini deh…” dan ngasih film-film bagus atau serial kemudian membicarakannya setelah selesai menonton atau “Rum, nonton ini yuk.” Dan di salah satu scene taruhan apa yang akan didialogkan antara dua aktor. Dia bilang “My daughter…” saya bilang “Dad…” dan saya yang menang because Laura says so. Yes! Don’t forget that I’ve a very good intuition.

Salah seorang teman yang lain, saya ajakin nonton after-movie festival band-band-an dengan tema outfit boho gitu eh dia pengen. Itu yang bikin saya jadi pengen punya bisnis. Biar ngeluarin duit buat nonton band-band-an  dan jalan-jalan kayak kalo sekarang ngeluarin duit buat nonton film di bioskop. Apalagi salah satu bucket list saya adalah nonton konser Coldplay dan Laruku. Kenapa dua band itu? Entahlah. Mungkin buat kamu sederhana tapi buat saya itu cita-cita. :’) duh sometimes I feel too duniawi. Bersama teman-teman yang udah lama kenal mungkin saya lebih sering berkata kasar dan dikatain juga sih. And no more “Ya ampun, kasian, sabar ya beb” tapi “Hahaha sukurin lu, udah gue tebak sih.” Tapi tetap terimakasih~

Anyway, banyak pikiran yang sering mengganggu saya, makanya sebagian saya tulis di sini ya. Kalau nggak koheren dan kurang bridging ya mohon maaf. It just come out from my mind.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.