Langsung ke konten utama

Hari Perempuan Internasional yang Sudah Lewat

Beberapa hari lalu adalah Hari Perempuan Internasional. Biasanya saya bukan orang yang peduli terhadap hal-hal seperti ini. Bahkan kalau ngetwit atau ngeblog bahas hal-hal seperti ini bikin kelihatan keren, mending saya kelihatan bego dengan twit saya yang nggak bermuatan nilai sosial. Akan tetapi, di umur yang bahasan utamanya adalah memantaskan diri ini, saya mulai insecure terhadap hal-hal yang menyangkut “perempuan” “wanita idaman” “calon istri yang baik” dan sebagainya. Semalam, saya bersama geng anak bungsu generasi Y mengobrol sambil makan seblak. Karena anak-anak bungsu ya jadinya kami agak santai karena nggak banyak tuntutan. Hal itu yang mendorong ke arah nggak mau keluar dari zona nyaman. Padahal setelah saya pikir-pikir perempuan yang oke bukan hanya dia yang mikirin karir.

Pasti ukurannya bakalan beda-beda tiap orang. Saya baru saja stalking seorang PR Ismaya Live yang tahun lalu datang ke acara Summer Sonic buat nonton Radiohead. Iri juga sih. Mungkin buat saya itu keren tapi buat orang lain belum tentu. Suatu hari saya bangun untuk beribadah dan berencana tidur lagi setelah itu karena ke kantor masih agak siang tapi pas saya mau ambil air wudhu, ada mbak-mbak yang jam segitu udah nyuci baju dan setelah saya amati dia mandi terus berangkat kuliah pagi-pagi. Jika itu saya dan ada kuliah pagi kemungkinan saya lebih memilih untuk mencuci besok atau nanti. Menunda pekerjaan. Lalu saya sadar lagi. Menjadi seorang perempuan bukan hanya perkara mengejar passion dll tapi di masa depan, seorang perempuan harus menjadi time manager yang baik, bangun pagi, nyiapin sarapan, dll dan harus mengatur keuangan, serta hal-hal yang terlihat sederhana lainnya tapi malah taken for granted. Apalagi sebagai anak bungsu yang lebih sering tau beres. Self defense mechanism-nya adalah dengan bilang “Ya nanti kalo udah waktunya juga pasti ada naluri buat ngerjain hal-hal kayak gitu kok.” Hmm, mungkin.

Ada perempuan-perempuan yang ambisius mengejar karir. Ada juga yang ingin jadi ibu rumah tangga. Both are good. Saya nggak setuju kalau ada yang bilang “Buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya cuma jadi ibu rumah tangga?” Gini deh, your children deserve to get a smart mom. Pendidikan itu bukan hanya bikin pinter secara akademis tapi mempengaruhi juga cara berpikir. Kalau nggak percaya bandingin aja. Nah, sekarang mumpung masih muda sebagai seorang perempuan nggak ada salahnya nyobain banyak hal dan ancang-ancang buat ngatur ini itu, dimulai dari diri sendiri yang memerangi rasa malas (ini note buat diri sendiri). Segala hal bisa  aja terjadi di masa depan. Mungkin sekarang kamu ambisius ngejar passion, tapi kalau emang akhirnya harus jadi mamah-mamah rumah tangga lau bisa apa? Paling nggak udah ada modalnya lah ya. Gebetan kamu yang nolak dengan bilang katanya lagi nggak mau pacaran aja tiba-tiba sebulan kemudian punya pacar baru. Everything can change.

Nah, saya juga berhasil menanya-nanyai beberapa teman nih yang sama galaunya sama saya perihal masa depan. Aih. Yuk simak wanita keren versi mereka!

“Menurut aku cewek keren itu cewek mandiri. Bisa ngurus ini itu, banyak hal. Ya kerjaan, ya rumah, ya anak, ya keuangan, ya pasangan. Semua jalan dan bisa diatasin. Cewek cerdas. Ga Cuma sekadar cantik fisik aja apalagi body bahenol punya tapi kopong. Cewek bakoh lah gitu pokoknya. Dan yg jelas buat physically tetep goodlooking sih setidaknya hehe. Cewek yang simple tapi elegan.” – NC, 22 th, bilang kudu bakoh tapi ga move on-move on

“Menurut aku cewek yang keren yang mandiri, bisa menyesuaikan diri walaupun di tempat baru (tau tempat sih), good attitude, multi talenta (setidaknya mau coba segala hal). Bayangin aja besok udah berkeluarga terus suami lagi dinas eh pintu rumah jebol, duit juga lagi mepet. Mau gamau kudu ngerjain sendiri kan? Atau besok kalo motor udah butut nggak bisa distarter ya paling nggak bisa nyelah motor lah ya. Karena standar motor yang tengah kalo nggak tau tekniknya bakalan susah lho.” GCP, 21 th, calon bagian business development perusahaan start up. Amiin

“Cewek ideal itu yang mandiri tapi ketika bersama pasangan bisa memposisikan diri. Bisa masak (belajar dari youtube) dan ramah (tidak merendahkan profesi apapun)- SDU, 22 th, bentar lagi meniqa. Amiin

Itu dari sudut pandang cewek-cewek ya. Kalau dari sudut pandang cowok kayak gimana sih?

“Cewek ideal yang layak diperjuangkan menurutku adalah yang punya keseriusan untuk masa depannya. Contohnya dalam hal karier atau pendidikannya.” FAP, 22 th, pendukung musisi lokal

“Aku tak akan menyia-nyiakan wanita cerdas, berkepribadian, punya tujuan dan gairah untuk hidup.” M, 24 th, abang-abang ingin menjadi inspirator

“Yang kayak kamu mbak. (ini gombalan klasik mahasiswa semester dua ya? *Arum pengamat*) Perempuan yang mau menerima apa adanya, pengertian, ingat salat, mau diajak berjuang dan senang bareng, saling support, nggak selingkuh” ML, 18 th, rohis

Waduh, Dek. Itu mah ciri-ciri jodoh kamu pengennya gitu ya. Hmm

                Jadi, gimana? Sudah merasa pantas saudari-saudari?

Semoga jawaban teman-teman di atas sedikit menyadarkan ya ternyata memantaskan diri bukan hanya memperbaiki appearance. Meskipun itu juga sala satunya sih. Tapi, hal-hal yang lain juga~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.