Langsung ke konten utama

Analogi Kopi dan Awan


      Awan berangsur-angsur menggelap, langit menuruti keinginan penyair menjadi senja. Seorang gadis mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan celana jeans panjang memasuki sebuah kedai kopi di pinggir jalanan yang sedang macet. Tidak ada yang istimewa dari kedai tersebut kecuali furniture klasik dan cangkir-cangkir kuno yang berada di sudut kedai. Tidak beberapa lama capucino yang dipesannya datang, rasanya nikmat, berbeda dengan capucino yang lain. Itu yang membuat di hari-hari berikutnya dia sering datang kesana. Hingga suatu malam...

"Nona Vio, sebentar lagi kedai ini akan tutup"
Seseorang telah berdiri di dekat mejanya. Vio kaget sekaligus kikuk.

"Eh iya, maaf... Kamu tahu namaku?"

"Siapa yang tidak tahu dengan penulis, coffee blogger dan pemain film seperti nona" tidak sedikitpun senyum di wajah barista itu muncul

"Kamu berlebihan, oh iya kamu barista disini ya? Kalau ada waktu kita bisa mengobrol. Aku ingin bertanya banyak mengenai kedai dan kopi disini"

Barista itu hanya tersenyum sedikit.

"Vio, seandainya kamu tahu bagaimana selama ini aku mengamatimu dari blog dan tulisan-tulisan brilianmu itu. Bahkan selama beberapa hari bisa mengamatimu dari balik meja kerjaku pun aku sudah bahagia, dan kamu mengajakku ngobrol? Bagaimana aku bisa menolak" begitu kata-kata yang ada di hatinya dan tidak dapat dia ungkapkan.

***

Senja, pertemuan di sebuah kafe...

           Hari ini Awan, begitu nama barista itu,mengambil sift malam, jadi mereka bisa bertemu.

"Jadi, hari ini aku ingin bertanya banyak denganmu untuk bahan blogku" senyum Vio yang manis tertimpa cahaya lampu.

"Tapi aku ingin bertanya denganmu dulu. Kenapa kamu memilih kopi? Kenapa bukan fashion, gadget atau travel? Perempuan cantik sepertimu lebih pantas menjadi fashion blogger"

"Aku jatuh cinta dengan kopi, pertama kali saat kakekku, pekerja malam itu selalu menyesap cangkir demi cangkir kopi diantara mesin tik nya yang sudah seret. Beliau berkata: "Kopi itu memiliki cita rasa yang hampir sama dengan kehidupan there's sweet, bitter and sometime sour. And to be here with you is the sweetest one" beliau berkata seperti itu sambil matanya berkaca-kaca. Saat itu aku masih SD belum tahu apa-apa mengenai kehidupan. Sejak kecil aku memang hanya tinggal dengan kakekku. Sekarang aku baru tahu apa maksudnya"
"Baik, sekarang kamu boleh tanya apapun"
"Jujur, aku baru tahu kedai itu di suatu senja, di kota ini yang sangat macet, begitu pula dengan kopinya. Disana tersimpan potensi dari barista-barista yang membuatku menyesal baru tahu belakangan. Termasuk kamu."

"Seorang barista tidak hanya memerlukan keahlian, ketrampilan dan keuletan untuk membuat secangkir kopi yang nikmat. Tetapi perlu kebiasaan, perasaan, dan kemistri yang kuat agar berbeda dari kopi yang lain. Meskipun dipetik dari pohon yang sama, dijemur di bawah matahari yang sama dan melalui proses roasting dengan mesin yang sama, barista lah yang akan menentukan cita rasa kopi tersebut, menakar dengan pas espresso, cream susu dan komponen lain agar tercipta harmoni, seperti musik" dia berkata dengan tatapan yang jauh dan dingin.

"Darimana kamu mengutip kata-kata seperti itu?" Vio mencairkan suasana dengan senyumnya yang selalu menawan.

"Dari kehidupan" mata laki-laki itu berganti menatap Vio.

           Mereka berbicara mengenai apapun sampai larut, terutama kopi. Jakarta tidak pernah lengang, macet disana tidak mengenal waktu. Lampu-lampu di jalan seperti kunang-kunang terlihat dari kaca kafe di sebelah meja dua orang yang lupa waktu.
"Kamu punya seseoramg yang berkesan di hidupmu? Tentu saja selain kakek yang tinggal bersamamu"

"Yang aku punya sekarang hanya kakek dan Aldo, pacarku sekaligus penyemangan untukku. Aku orang yang introvert, jadi temanku sedikit. Sekarang orang berkesan itu bertambah satu. Kamu."

"Apa pekerjaan pacar kamu?" tanya Awan dengan penasaran

"Dia seniman, fotografer, dan memiliki usaha keramik"

           Begitu berkesannya pacar yang diceritakan Vio. Awan bersikap biasa saja padahal di satu sisi dia terbakar cemburu. Betapa besar harapannya setelah dia bisa kenal dengan Vio. Betapa di menolak berkencan dengan perempuan-perempuan yang tidak kalah cantik dari Vio.
           Malam semakin larut, bintang lampu kendaraan, lampu kota dan kunang-kunang sulit dibedakan, garis batas langit dan tanah telah lebur sebelum akhirnya mereka pulang. Setelah pertemuan itu merka menjadi sering bertemu.
***
          Hari-hari yang dilalui Vio dipenuhi perasaan-perasaan yang mengganjal, ada perasaan sesak sekaligus lega dalam batinnya. Dia jadi sering melamun.

" Kamu kenapa, sayang?" Vio hanya tersenyum memandangi wajah pacarnya yang dia sebut 'My Morning Coffee'. Mobil pacarnya mengarah ke kedai yang biasa Ia kunjungi. Di dalam kedai itu perasaan berkecamuk di hati dan pikiran Vio semakin menjadi, sesekali dia melirik counter tempat barista bekerja. Dia mendapati wajah yang seperti biasa, tenang dan dingin. Wajah yang sebenarnya menyimpan perasaan remuk. Mulai hari itu pula, Awan semakin menjauhi Vio, menolak bertemu dan mulai mengencani perempuan lain.
          Vio semakin gila, perasaan sesak kini mendominasi batinnya. Hingga suatu hari dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Aldo. Seseorang yang selama ini menjadi penyemangat dalam setiap mimpinya. Keputusan itu, keputusan yang didasari ego, ego untuk bersama laki-laki lain. Sekarang dia hanya memiliki kakek, sosok berkacamata yang rambutnya semakin putih. Tidak ada Aldo tidak juga barista yang dia harapkan menggantikan posisi Aldo. Bahkan suatu malam dia melihat Awan keluar dari bar bersama seorang perempuan mabuk. Hatinya semakin hancur. Mulai saat itu dia memutuskan untuk pergi jauh, menikmati kehidupannya bersama kakek. Dia menuliskan sesuatu di blog:

"Aku jatuh cinta kepada orang hanya beberapa kali, bahkan aku telah menyakiti hati seseorang juga karena aku jatuh cinta. Sekarang dia telah berada di jauh, dan aku kehilangan seorang yang lain. Aku sempat sering jatuh cinta dengan perkataan orang-orang, termasuk kata-kata ini: Seorang barista tidak hanya memerlukan keahlian, ketrampilan dan keuletan untuk membuat secangkir kopi yang nikmat. Tetapi perlu kebiasaan, perasaan, dan kemistri yang kuat agar berbeda dari kopi yang lain. Meskipun dipetik dari pohon yang sama, dijemur di bawah matahari yang sama dan melalui proses roasting dengan mesin yang sama, barista lah yang akan menentukan cita rasa kopi tersebut. Menakar dengan pas espresso, cream susu dan komponen lain agar tercipta harmoni seperti musik." Aku jatuh cinta dengan perkataan itu tepat seperti perasaan jatuh cinta kepada perkataan kakekku yang membuatku terpesona dengan analogi kopi dan kehidupan. Aku merindukan laki-laki yang mengatakan hal itu, yang telah membuat egoku memutuskan untuk kehilangan orang lain.

***

          Setiap detik, menit dan jam, baik Vio maupun Awan sama-sama merasa menyesal. Entah apa yang membuatnya menyesal. Kini mereka dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Bercangkir-cangkir kopi yang selama ini mereka agung-agungkan tidak dapat menjinakkan perasaan mereka. Awan membuka blog Vio untuk mengobati sedikit rindunya. Dia menemukan posting yang baru di tulis kemarin. Entah apalagi perasaan yang muncul dibatinnya, sulit diulas dengan kata-kata. Sekarang dia sudah memiliki pacar, apakah dia akan mengedepankan egonya seperti Vio? Kemudian mereka menjadi pasangan egois pecandu kafein? Hingga suatu malam dia menemui pacarnya mabuk dan diantar laki-laki lain dan mereka resmi putus.

***

          Barista itu memberanikan diri menemui Vio, mereka bertatap muka sekarang.

"Capuccino di Italia hanya disajikan untuk makan pagi, di waktu a.m. tepat seperti ucapan 'Buenos Dias' yang aku dapat dari pelanggan setia di pikiranku."

"Siapa?" Vio bertanya antusias.

Pertanyaannya hanya dijawab senyuman, kali ini senyumnya mencair dan lebih tulus, tidak sedingin biasanya

"Siapa?" Vio mengulang pertanyaannya dengan nada memaksa ingin tahu.

"Kamu. Sekarang mau apa?" senyum barista itu semakin mengembang tetapi sedikit canggung.

"Ucapan itu hanya untuk pacarku."

"Kamu sudah punya pacar baru?" muka Awan berubah menjadi semakin salah tingkah.

"Kamu tau aku putus dengan Aldo?"

"Dari blog."

Vio tertawa, jadi selama ini Awan masih sering mengunjungi blognya.

"Kopi menjadi komoditas terbesar kedua setelah minyak bumi. Minyak bumi itu kakekku dan kopi itu ... " Vio masih tertawa kecil.

"Siapa?"

"Kamu. Sekarang mau apa?"

"Aku mau hidup bahagia denganmu di setiap pagi di kopi Italia, dan sepanjang hari di antara kopi-kopi yang memberi kenangan. Aku harap kamu adalah secangkir kopi pagiku yang memberi semangat dan kopi senjaku yang menemaniku istirahat."

TAMAT:D

:: This is my first short story which I can finish. I made it when examination got close. What a fool I am! Sorry if there are so many typo, I haven't edit it yet. Last, thanks for reading :)
find me here: @nurmaarum

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

A House

I'm imagining building a not really big yet cozy and very comfortable house where I'm surrounded by love and affection. It's designed to save me from any kind of broken heart. The roof is made of your messy hair and the room where I can take a rest is made of your arms. It's your hug.

Hmmm~

Kita akan saling berpelukan tanpa menuntut apa-apa Jangan selamatkan saya Karena pelukanmu adalah tempat paling aman bahkan saat saya tenggelam Kita akan saling merindu Kamu pasti ingat rasanya itu Kita duduk berjauhan dan mencuri pandang berharap segera saling menggenggam tangan Hingga tiba saatnya kamu tersenyum beberapa senti saja di samping saya Kemudian merrapikan rambut saya yang mungkin kamu gemas karena daritadi berantakan Saya akan tertidur di bangku tempat kita makan siang dan kamu mengusap kepala saya Kamu mengantarkan saya malam harinya dan saya memasang muka tidak rela karena waktu merebut kamu dari saya Tapi kamu mencium kening dan sekali lagi menepuk lembut bahu saya sambil meyakinkan, besok dan besoknya dan besoknya kita bertemu lagi Kamu sangat tenang dan di hari itu dan selanjutnya saya bangga berkata pada teman-teman bahwa sayalah perempuan paling bahagia

~~~

It's been along time since the last time seating in front of someone in a coffee shop talking about books and their author, sharing some similar jokes, planning about going to a concert, flirting each other and doing other couple do like in a romance book. I ordered cappuccino at our first date, he ordered cafe latte. "May I have the sugar?"when he saw I did't pour it to my glass. Since then I knew that I didn't need sugar anymore to make my life sweet. But just now, I feel its bitterness. He had taken all my sugar.